BERITA TERKINI
Beli Rumah dengan Cara ‘Test Drive’: Calon Pembeli Sewa Dulu sebelum Memutuskan

Beli Rumah dengan Cara ‘Test Drive’: Calon Pembeli Sewa Dulu sebelum Memutuskan

Tren membeli rumah di Amerika Serikat mulai bergeser. Jika sebelumnya calon pembeli umumnya hanya diajak berkeliling melihat kondisi rumah lewat house tour atau open house sebelum transaksi diproses, kini sebagian orang memilih cara lain: menyewa lebih dulu rumah yang ingin dibeli.

Sejumlah calon pembeli disebut ingin merasakan langsung pengalaman tinggal di rumah tersebut, termasuk menilai kenyamanan dan lingkungan sekitar. Pendekatan ini muncul di tengah kejenuhan sebagian orang terhadap brosur mewah atau tur singkat yang dinilai belum cukup menggambarkan kondisi sebenarnya saat rumah ditempati.

Salah satu contoh dialami Eric Albert, pemilik rumah di Newport Coast, California. Ia bercerita ada pasangan dari luar negeri yang berminat pada rumah mewah miliknya seluas 1.700 meter persegi yang ditawarkan seharga US$ 60,2 juta, atau sekitar Rp 984 miliar (kurs Rp 16.359). Namun, alih-alih meminta tur rumah, pasangan tersebut justru menanyakan kemungkinan untuk menyewa terlebih dahulu sebelum memutuskan membeli.

Albert menyetujui permintaan itu. Rumahnya kemudian disewa selama dua bulan dengan tarif US$ 250.000 per bulan, atau sekitar Rp 4 miliar per bulan. Paket sewa tersebut mencakup penggunaan rumah beserta furnitur, asisten rumah tangga, dan mobil mewah.

Setelah masa sewa berakhir, pasangan itu sempat menawar di bawah harga yang diminta. Namun pada akhirnya mereka memilih membeli properti lain di kawasan yang sama. Meski transaksi jual beli tidak terjadi, Albert mengaku tetap diuntungkan karena rumahnya berhasil disewakan dengan nilai tinggi dalam waktu singkat. Ia menilai pengalaman itu membuka peluang untuk menyewakan kembali rumah tersebut dengan harga yang lebih tinggi di kemudian hari.

Kasus lain terjadi pada pasangan yang berencana pindah dari New York ke pedesaan di Hudson Valley. Mereka mempertimbangkan membeli rumah desa seharga sekitar US$ 600.000 atau Rp 9,8 miliar. Karena terbiasa tinggal di apartemen, pasangan itu sempat ragu membeli rumah besar di area pedesaan. Agen properti mereka kemudian mengatur agar mereka menginap semalam untuk menilai kondisi rumah, mendengar suara hewan pada malam hari, dan merasakan suasana pagi. Setelah merasa yakin, pasangan tersebut akhirnya membeli rumah itu.

Di kalangan agen properti, tren ini memunculkan pro dan kontra. Sebagian menilai cara tersebut sebagai pendekatan pemasaran yang kreatif dan berpotensi meyakinkan pembeli, karena pengalaman menginap dianggap lebih kuat dibanding sekadar melihat-lihat.

Agen properti Ari Afshar menyamakan konsep ini dengan kebiasaan test drive pada kendaraan. Menurutnya, jika orang bisa mencoba mobil sebelum membeli, maka mencoba tinggal di rumah juga bisa menjadi langkah yang masuk akal.

Namun, ada pula agen yang menilai praktik tersebut tidak lazim dan berisiko. Jade Mills dari Coldwell Banker AS menyebut proses ini menuntut kemampuan menilai calon pembeli dengan sangat baik. Ia mengaku sulit membayangkan membiarkan siapa pun masuk dan tinggal di sebuah rumah.

Pandangan serupa disampaikan Ruthie Assouline dari Douglas Elliman. Ia mengakui tren ini bisa membantu meyakinkan pembeli, tetapi risikonya dinilai tinggi karena agen tidak selalu mengetahui karakter calon pembeli. Assouline mencontohkan kasus penjualan rumah mewah di Miami, Florida, yang gagal setelah calon pembeli awalnya diundang makan malam di rumah tersebut. Situasi memburuk ketika calon pembeli menginap semalaman, mengajak teman lain, dan memicu alarm kebakaran.

Dari sisi calon pembeli, tren ini mendapat dukungan. John Serra, yang sedang mencari hunian di Florida, berharap bisa tinggal lebih lama di rumah yang ingin dibelinya agar benar-benar memahami suasana tempat dan lingkungan baru. Ia mengatakan durasi satu hari, tiga hari, atau seminggu belum cukup untuk merasakan sebuah kawasan, dan ia tidak mempermasalahkan jika harus membayar lebih selama bisa mendapatkan pengalaman yang diinginkan.