Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan prospek perekonomian global masih berada dalam tren perlambatan, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 melambat menjadi 3,2% dari 3,3% pada 2025, disertai divergensi pertumbuhan antarnegara.
Perry menjelaskan perlambatan pertumbuhan ekonomi global terutama dipengaruhi dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta berlanjutnya tensi geopolitik. Sementara itu, perekonomian AS justru diprakirakan meningkat, didorong besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI).
Di kawasan lain, ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat akibat kinerja ekspor yang menurun sejalan dengan perlambatan ekonomi global. Permintaan domestik di kedua kawasan tersebut juga dinilai belum kuat, meski investasi AI disebut meningkat.
Perry menambahkan, ekonomi China masih berada dalam tren melambat karena konsumsi rumah tangga yang belum kuat. Adapun ekonomi India dinilai belum kuat seiring menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal.
Dari sisi pasar keuangan global, BI menilai ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) tetap terbuka, seiring kondisi pasar tenaga kerja yang masih lemah. Namun, yield US Treasury (UST), terutama tenor panjang, tetap tinggi sejalan dengan meningkatnya risiko fiskal AS.
Menurut Perry, perkembangan tersebut mendorong aliran modal ke negara berkembang berlangsung secara selektif, terutama menuju saham dan obligasi jangka pendek. Pada saat yang sama, indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) melemah di tengah naiknya permintaan terhadap aset safe haven yang turut mendorong kenaikan harga emas.
Ke depan, Perry memperkirakan ketidakpastian perekonomian global masih akan tinggi. Karena itu, ia menekankan perlunya kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

