BERITA TERKINI
KCI Kaji Penyesuaian Tarif KRL, Daya Beli Masyarakat Jadi Pertimbangan

KCI Kaji Penyesuaian Tarif KRL, Daya Beli Masyarakat Jadi Pertimbangan

Wacana penyesuaian tarif Kereta Rel Listrik (KRL) kembali mencuat setelah PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menyatakan bahwa perubahan harga tiket masih berada pada tahap kajian bersama sejumlah pihak terkait. KCI menegaskan, apa pun hasil pembahasan nantinya akan tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat sebagai pengguna utama layanan tersebut.

VP Corporate Secretary PT KCI, Karina Amanda, mengatakan pembahasan penyesuaian tarif saat ini masih dilakukan bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan. Menurutnya, daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor penting sebelum kebijakan diputuskan.

“Nanti apa pun hasil dari kajian, tentunya ini tetap akan memperhatikan kemampuan daya beli masyarakat ya. Jadi fokus utama kita sekarang adalah peningkatan pelayanan dulu,” ujar Karina.

Karina menambahkan, dalam waktu dekat KCI bersama para pemangku kepentingan masih memusatkan perhatian pada peningkatan kualitas layanan penumpang. “Untuk saat ini KCI, KAI, maupun DJKA fokus utama adalah bagaimana kami bisa memberikan peningkatan pelayanan berkelanjutan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa pembahasan kenaikan tarif bukan isu baru dan telah muncul sejak beberapa tahun lalu, namun hingga kini masih dalam evaluasi. Karina menegaskan, jika nantinya terdapat penyesuaian tarif, pengumuman resmi akan disampaikan oleh pemerintah karena tarif KRL merupakan tarif yang ditetapkan pemerintah, bukan sepenuhnya keputusan operator.

“Karena tarifnya tarif pemerintah. Jadi nanti yang akan mengumumkan kalau ada penyesuaian tarif pasti nanti ada informasi dari pemerintah,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT KCI Mochamad Purnomosidi menyebut penyesuaian tarif tengah dipertimbangkan sebagai salah satu langkah untuk menekan besaran subsidi yang ditanggung pemerintah. Menurutnya, KCI sedang mencari berbagai skema agar subsidi lebih efisien tanpa mengurangi kualitas layanan.

“Niatnya gini lho, niatnya itu bagaimana subsidi itu bisa kami tekan. Kasihan pemerintah lah, kan gitu. Nah, kami lagi cari-cari berbagai macam solusi. Termasuk ada kereta (KRL) prioritas,” kata Purnomosidi saat ditemui di KCI Hall, Juanda, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Dalam skenario yang dibahas, kenaikan tarif disebut tidak terlalu besar. Purnomosidi menyebut kemungkinan penyesuaian sekitar Rp500. Jika diterapkan, tarif dasar KRL yang saat ini Rp3.000 untuk 25 kilometer pertama berpotensi menjadi Rp3.500. Meski demikian, ia menekankan rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final.

Purnomosidi juga menegaskan KCI tidak memiliki kewenangan memutuskan perubahan tarif secara sepihak karena layanan KRL masih disubsidi pemerintah. Karena itu, kebijakan harus melalui persetujuan Kementerian Perhubungan. “Enggak mungkin kami selesaikan sendiri. Pasti izinnya dari kementerian (Perhubungan), karena ini kereta subsidi kan,” ujarnya.

Selain penyesuaian tarif, KCI turut mempertimbangkan opsi lain untuk mengurangi beban subsidi, salah satunya menghadirkan layanan KRL prioritas. Konsep awalnya, KRL prioritas dirancang memiliki waktu tempuh lebih singkat dengan tidak berhenti di semua stasiun, melainkan hanya di stasiun-stasiun dengan volume penumpang tinggi.

“Jadi tempat di mana yang ramai saja diberhentikan. Itu rencananya lagi kita godok lah ya. Niatnya bagaimana subsidi bisa kita tekan,” kata Purnomosidi.

Ia menyebut konsep tersebut memiliki kemiripan dengan layanan kereta ekspres yang pernah diterapkan, namun KRL prioritas diupayakan tetap lebih cepat tanpa harus menyalip kereta lain di jalur yang sama. “Kayak dulu kan ada Ekspres. Untuk menyusul KA ekonomi. Nah, ini kita usahakan tidak menyusul, tapi relatif lebih cepat,” ujarnya.

Meski begitu, Purnomosidi mengatakan berbagai opsi masih terbuka dan belum ada solusi final. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan skenario KRL prioritas tidak diterapkan, sementara penyesuaian tarif KRL reguler justru menjadi opsi yang dipilih. “Bisa juga nanti yang KRL prioritas enggak jadi, tapi yang (KRL) ekonominya kita naikkan tarifnya. Dan juga masih ada alternatif lainnya,” katanya.

Saat ini, pemerintah masih memberikan subsidi agar tarif transportasi tetap terjangkau. Penumpang KRL dikenakan tarif Rp3.000 untuk perjalanan hingga 25 kilometer pertama, kemudian tambahan Rp1.000 untuk setiap 10 kilometer berikutnya. Dengan jumlah pengguna KRL yang mencapai ratusan ribu orang setiap hari di wilayah Jabodetabek, wacana penyesuaian tarif maupun perubahan layanan diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik.