Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan prospek perekonomian global menunjukkan tren perlambatan, sementara ketidakpastian pasar keuangan tetap tinggi. Kondisi tersebut dinilai turut memengaruhi pergerakan aliran modal global, termasuk ke negara-negara berkembang.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Edisi Februari pada Kamis (19/2/2026), Perry mengatakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diprakirakan melambat menjadi 3,2% dari 3,3% pada 2025, disertai divergensi pertumbuhan antarnegara.
Menurut Perry, perlambatan global terutama dipengaruhi dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta berlanjutnya tensi geopolitik. Sementara itu, AS justru diprakirakan meningkat, didorong besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI).
Di sisi lain, ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat seiring penurunan kinerja ekspor yang mengikuti perlambatan ekonomi global, serta permintaan domestik yang belum kuat di tengah meningkatnya investasi AI. Ekonomi China juga disebut tetap berada dalam tren melambat akibat konsumsi rumah tangga yang belum kuat. Adapun ekonomi India dinilai belum kuat, ditandai menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal.
Dari perkembangan pasar keuangan global, Perry menyatakan ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) masih terbuka seiring pasar tenaga kerja yang masih lemah. Pada saat yang sama, yield US Treasury (UST), terutama tenor panjang, tetap tinggi sejalan dengan peningkatan risiko fiskal AS.
BI menilai dinamika tersebut mendorong aliran modal ke negara berkembang berlangsung secara selektif, terutama mengarah ke instrumen saham dan obligasi jangka pendek. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dilaporkan melemah di tengah kenaikan permintaan terhadap aset aman (safe haven) yang turut mendorong kenaikan harga emas.
Ke depan, Perry memperkirakan ketidakpastian perekonomian global masih akan tinggi. Karena itu, ia menekankan perlunya kewaspadaan serta penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global dan mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

