BERITA TERKINI
BI Perkuat Operasi Moneter untuk Menjaga Stabilitas Rupiah, Luncurkan Instrumen Repo Valas

BI Perkuat Operasi Moneter untuk Menjaga Stabilitas Rupiah, Luncurkan Instrumen Repo Valas

Bank Indonesia (BI) mengumumkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk strategi baru melalui penguatan operasi moneter. Kebijakan ini ditempuh di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu perang AS dan Israel melawan Iran.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan salah satu penguatan tersebut adalah penerapan instrumen baru dalam operasi moneter berupa transaksi repo dalam valuta asing. Instrumen ini menggunakan underlying Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI), yang mulai diimplementasikan pada Senin (30/3).

Erwin menyatakan kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market). Tujuannya untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

Dalam pelaksanaannya, transaksi repo valas tersebut dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA. BI menilai kehadiran instrumen baru ini dapat menjadi alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, terutama likuiditas valas.

Selain itu, penambahan fitur repo dinilai memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA). BI berharap penguatan ini turut meningkatkan aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI, sehingga mendukung pendalaman pasar keuangan serta membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut.

Pada Senin (30/3) pagi, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.982 per dolar AS. Rupiah melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan mata uang Asia pada pembukaan perdagangan mayoritas berada di zona merah. Yen Jepang menguat 0,21 persen, sementara baht Thailand melemah 0,11 persen, yuan China melemah 0,13 persen, peso Filipina melemah 0,36 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,20 persen. Dolar Singapura melemah 0,07 persen dan dolar Hong Kong melemah 0,01 persen.

Adapun mata uang utama negara maju bergerak menguat. Euro menguat 0,07 persen, poundsterling Inggris menguat 0,04 persen, dan franc Swiss menguat 0,04 persen.