BERITA TERKINI
BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Melambat ke 3,2 Persen

BI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 Melambat ke 3,2 Persen

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 melambat ke level 3,2 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menilai perlambatan ini dipengaruhi tekanan yang kian dalam di sejumlah ekonomi utama, disertai dinamika pasar keuangan global yang masih bergejolak.

Perry menyampaikan, ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat lebih dalam pada 2026. Tekanan terutama berasal dari melemahnya kinerja ekspor seiring perlambatan global, sementara permintaan domestik dinilai belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan. Investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) memang meningkat, namun dampaknya disebut belum signifikan untuk mengangkat ekonomi kawasan tersebut.

Di sisi lain, China masih berada dalam tren perlambatan karena konsumsi rumah tangga belum solid untuk mendorong akselerasi pertumbuhan. India juga menghadapi tantangan serupa, dengan permintaan domestik yang melemah dan kinerja sektor eksternal yang belum optimal. “Ekonomi China tetap dalam tren melambat akibat konsumsi rumah tangga yang belum kuat, sementara ekonomi India juga belum kuat dengan menurunnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal,” kata Perry.

Dari sisi pasar keuangan global, BI menyoroti arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menurut Perry, Fed Funds Rate (FFR) masih memiliki ruang untuk penurunan lanjutan, seiring kondisi pasar tenaga kerja AS yang belum solid. Namun, yield US Treasury (UST), khususnya tenor panjang, diperkirakan tetap tinggi yang mencerminkan meningkatnya risiko fiskal Amerika Serikat.

Perry menambahkan, kondisi tersebut mendorong aliran modal global terjadi secara selektif, dengan investor lebih memilih saham dan obligasi jangka pendek negara berkembang. Pada saat yang sama, indeks mata uang dolar AS (DXY) melemah di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Di tengah perlambatan ekonomi dunia dan volatilitas pasar keuangan, BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Perry mengingatkan ketidakpastian global yang tinggi menuntut respons kebijakan yang adaptif dan terukur.

Bank Indonesia menyatakan akan memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Langkah ini ditujukan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan eksternal sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.