Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi akan berlanjut pada triwulan I 2026. Proyeksi ini ditopang oleh peningkatan konsumsi, terutama karena adanya stimulus pemerintah, serta kebijakan moneter yang lebih longgar.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tiga bulan pertama tahun tersebut bertepatan dengan sejumlah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang biasanya mendorong aktivitas ekonomi, seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, dan Idul Fitri 1447 H.
“Kami melihat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I masih akan tetap tinggi,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar secara daring dari Jakarta, Kamis.
Selain konsumsi, BI juga memperkirakan investasi tumbuh lebih tinggi. Perry menyebut pendorongnya antara lain investasi pemerintah, termasuk hilirisasi sumber daya alam (SDA), serta membaiknya keyakinan pelaku usaha yang dinilai masih berlanjut.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa sejumlah program pemerintah di bidang kesejahteraan dan pembangunan manusia, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan program lainnya, turut mendukung pertumbuhan ekonomi.
Perry menambahkan BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk dengan Kementerian Keuangan, untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan, mendorong sektor riil melalui stimulus fiskal dan insentif moneter, serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam perkembangan terbaru, pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,04 persen (yoy). Peningkatan tersebut terutama ditopang permintaan domestik melalui konsumsi rumah tangga dan investasi, sejalan dengan dampak berbagai stimulus kebijakan pemerintah dan bauran kebijakan BI.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dibanding 2024 sebesar 5,03 persen (yoy), serta disertai perbaikan kualitas ketenagakerjaan.
Dari sisi global, Perry menyampaikan prospek perekonomian dunia berada dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen, disertai divergensi pertumbuhan antarnegara.
Menurut Perry, perlambatan global terutama dipengaruhi dampak tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan berlanjutnya tensi geopolitik. Namun, AS diprakirakan meningkat didorong besarnya stimulus fiskal dan tingginya investasi, termasuk investasi terkait artificial intelligence (AI).
Ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan melambat akibat penurunan kinerja ekspor sejalan perlambatan ekonomi global dan permintaan domestik yang belum kuat, meski investasi AI meningkat. Tiongkok juga disebut tetap dalam tren melambat karena konsumsi rumah tangga yang belum kuat, sementara India dinilai belum kuat seiring melemahnya permintaan domestik dan kinerja sektor eksternal.
Di pasar keuangan global, Perry menyebut ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) masih terbuka seiring pasar tenaga kerja yang masih lemah. Sementara itu, yield US Treasury (UST), terutama tenor panjang, tetap tinggi sejalan dengan meningkatnya risiko fiskal AS.
Situasi tersebut mendorong aliran modal ke negara berkembang berlangsung selektif, terutama ke instrumen saham dan obligasi jangka pendek. Indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) melemah di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) yang turut mendorong kenaikan harga emas.
“Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diprakirakan tetap tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global serta mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata Perry.

