BERITA TERKINI
Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak Dekati 120 Dolar AS per Barel

Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melonjak Dekati 120 Dolar AS per Barel

Bursa saham Asia melemah tajam pada perdagangan Senin (9/3/2026) seiring lonjakan harga minyak dunia yang mendekati 120 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak tersebut tercatat sebagai lonjakan harian terbesar dalam hampir 40 tahun terakhir dan memicu tekanan luas di pasar keuangan kawasan.

Tekanan paling besar terlihat di Korea Selatan. Indeks Kospi memicu circuit breaker untuk kedua kalinya dalam empat sesi perdagangan terakhir setelah anjlok lebih dari 8 persen. Perdagangan sempat dihentikan selama 20 menit mulai pukul 10.31 waktu setempat. Pada perdagangan terakhir, Kospi tercatat turun 8,58 persen.

Saham-saham berkapitalisasi besar ikut terseret. Samsung Electronics merosot lebih dari 10 persen, sementara produsen chip SK Hynix turun 12,3 persen. Circuit breaker juga sempat diaktifkan pekan lalu ketika indeks acuan tersebut jatuh lebih dari 12 persen pada Rabu dan mencatat penurunan harian terburuknya.

Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan di pasar. Harga minyak Brent melonjak 26,1 persen ke 116,08 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat melesat 27,6 persen ke 116,03 dolar AS per barel. Berdasarkan data LSEG, kenaikan tersebut merupakan lonjakan harga minyak harian terbesar sejak akhir 1988.

Kenaikan tajam itu terjadi setelah sejumlah produsen minyak besar di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Iran, dan Uni Emirat Arab, memangkas produksi. Langkah ini diambil setelah Selat Hormuz ditutup, yang merupakan jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi global.

Di tengah perkembangan tersebut, disebutkan terjadi ledakan di kilang minyak Teheran pada Sabtu (7/3/2026), setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang lokasi tersebut dalam lanjutan perang Iran sejak 28 Februari.

Tekanan juga menjalar ke Jepang. Indeks Nikkei 225 turun 7,05 persen dan kembali berada di bawah level 52.000 untuk pertama kalinya sejak Januari, sedangkan indeks Topix melemah 5,36 persen. SoftBank Group menjadi salah satu saham dengan penurunan terdalam setelah turun lebih dari 11 persen. Saham perusahaan terkait semikonduktor seperti Advantest dan Lasertec juga turun masing-masing lebih dari 13 persen dan 11 persen.

Di China, pelemahan relatif lebih terbatas. Indeks Hang Seng di Hong Kong turun 2,75 persen, sementara indeks CSI 300 di China daratan melemah 1,65 persen. Bursa Australia turut tertekan dengan indeks S&P/ASX 200 turun 3,2 persen, meski sempat memangkas sebagian kerugian.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka saham bergerak melemah seiring lonjakan harga minyak. Futures Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 800 poin atau sekitar 1,75 persen. Sementara futures S&P 500 turun 1,59 persen dan futures Nasdaq-100 melemah 1,6 persen.

Presiden AS Donald Trump menilai kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi kecil dari langkah militer terhadap Iran. Melalui platform Truth Social, Trump menyebut kenaikan harga minyak dalam jangka pendek sebagai “harga yang sangat kecil untuk dibayar” demi menghancurkan ancaman nuklir Iran. “Hanya orang bodoh yang akan berpikir sebaliknya!” tulis Trump.