Sejumlah pimpinan perusahaan minyak dan gas terbesar dunia memperingatkan ancaman serius terhadap ekonomi global seiring perang yang melibatkan Iran mulai mengganggu pasokan energi dalam skala besar. Para eksekutif menilai situasi ini berpotensi menjadi krisis terburuk sejak embargo minyak 1973.
Peringatan tersebut disampaikan dalam konferensi energi CERAWeek di Houston, Texas, yang digelar S&P Global. Dalam forum itu, para CEO menilai pasar saat ini belum sepenuhnya mencerminkan besarnya gangguan pasokan akibat konflik yang terus memanas.
Menurut para eksekutif, Asia dan Eropa berisiko menghadapi kelangkaan bahan bakar jika perang berlarut-larut. Mereka juga memperkirakan harga minyak dapat tetap tinggi bahkan apabila konflik berakhir, karena negara-negara akan berupaya mengisi kembali cadangan yang telah terkuras.
Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan, disebut berpotensi menurunkan produksi minyak secara signifikan. Pengurangan produksi di Timur Tengah bahkan disebut dapat mencapai hingga 10 juta barel per hari.
CEO ConocoPhillips Ryan Lance mengatakan pasar energi global tidak mungkin tetap stabil ketika terjadi gangguan pasokan dalam skala besar. Ia menekankan bahwa hilangnya 8–10 juta barel minyak per hari bukan angka kecil karena mewakili porsi besar dari suplai global.
“Anda tidak bisa begitu saja menghilangkan 8 hingga 10 juta barel minyak per hari dan sekitar 20 persen pasar gas alam cair (LNG) dari panggung dunia tanpa menimbulkan dampak signifikan,” kata Lance kepada peserta CERAWeek.
CEO Kuwait Petroleum Corporation Sheikh Nawaf al-Sabah menyatakan Iran pada dasarnya telah memberlakukan blokade ekonomi terhadap produsen minyak di Timur Tengah dengan menutup Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital yang menghubungkan ekspor minyak negara-negara Teluk Arab ke pasar global.
“Ini bukan hanya serangan terhadap kawasan Teluk, tetapi juga serangan yang menyandera ekonomi dunia,” kata al-Sabah. Ia memperingatkan perang akan memicu efek domino terhadap ekonomi global. “Biaya dari perang ini tidak berhenti pada batas geografis kawasan ini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dampaknya meluas ke seluruh rantai pasok.
Analis independen dari Sankey Research, Paul Sankey, menyebut guncangan minyak saat ini sebagai yang terburuk sejak embargo minyak Arab terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya pada 1973. “Ini yang terburuk yang pernah saya lihat,” katanya. Menurut Sankey, situasi seperti penutupan Selat Hormuz belum pernah terjadi dalam skala ini.
Sejumlah pernyataan para eksekutif itu berbeda dengan upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menenangkan industri dan pasar minyak yang bergejolak. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pasar hanya menghadapi gangguan jangka pendek dan menilai harga yang harus dibayar sepadan untuk manfaat jangka panjang dalam melemahkan Iran.
Namun, para pelaku industri menilai biayanya sangat besar, terutama karena aset minyak dan gas kini rentan terhadap serangan. Lance mengatakan ConocoPhillips bahkan “memohon” kepada pemerintah AS agar memberikan perlindungan militer terhadap aset milik AS di Qatar yang bernilai ratusan juta dolar AS.
Dalam perkembangan terkait, Lance menyebut Iran telah memaksa penutupan pusat LNG terbesar di dunia di Qatar melalui serangan drone. ConocoPhillips merupakan salah satu investor utama di fasilitas tersebut. “Kami harus mengevakuasi sejumlah staf, terutama staf non-esensial,” kata Lance. “Itu menjadi pekerjaan berat dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.