BERITA TERKINI
Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp505,84 Triliun per April 2025, Investor Masih Dominan di RDPT dan Pasar Uang

Dana Kelolaan Reksa Dana Tembus Rp505,84 Triliun per April 2025, Investor Masih Dominan di RDPT dan Pasar Uang

Prospek dan tren reksa dana pada 2025 menjadi salah satu informasi yang dicermati investor untuk membaca peluang sekaligus memahami arah penempatan dana oleh manajer investasi. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana terus bergerak, dengan preferensi investor yang masih kuat pada produk berisiko lebih rendah.

Berdasarkan data dan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2025, total dana kelolaan reksa dana mencapai Rp505,84 triliun. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2023.

Jika dirinci berdasarkan jenisnya, reksa dana syariah mencatat kenaikan dana kelolaan terbesar secara bulanan, naik 4,06% menjadi Rp6,09 triliun. Reksa dana saham naik 4,47% menjadi Rp69,84 triliun, sementara reksa dana ETF bertambah 3,5% menjadi Rp14,75 triliun. Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) meningkat 1,43% menjadi Rp152,41 triliun, reksa dana pasar uang naik 0,76% menjadi Rp90,36 triliun, dan reksa dana terproteksi bertambah 1,82% menjadi Rp122,39 triliun.

Melihat komposisi tersebut, investor disebut lebih banyak menempatkan dana pada RDPT, reksa dana pasar uang, dan reksa dana terproteksi. Sementara itu, minat pada reksa dana saham dinilai belum setinggi instrumen lain karena kinerjanya masih tertekan. Data Infovesta Utama mencatat return reksa dana saham minus 3,74% secara year to date (YtD) sejak awal tahun.

Berbeda dengan reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang yang menunjukkan tren positif. Per 5 Mei 2025, RDPT membukukan return 2,29% YtD, sedangkan reksa dana pasar uang mencatat 1,82% YtD.

Sejumlah faktor ekonomi turut memengaruhi pergerakan kinerja reksa dana. Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu variabel penting, terutama bagi reksa dana berbasis saham. Selain itu, perubahan suku bunga, tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemerintah, serta perkembangan sektor industri juga berperan dalam membentuk prospek kinerja portofolio.

Dari sisi sektor, fokus industri di Indonesia disebut didorong oleh transformasi digital dan pengembangan industri berkelanjutan. Jika sektor-sektor tersebut masuk ke dalam portofolio, kinerjanya dapat ikut memengaruhi hasil investasi reksa dana.

Di tengah tren penurunan suku bunga, dua jenis reksa dana yang disebut berpotensi diuntungkan adalah RDPT dan reksa dana saham. Untuk RDPT, penurunan suku bunga acuan dinilai menjadi sentimen positif bagi portofolio berbasis obligasi pemerintah, terutama obligasi bertenor panjang, karena penurunan suku bunga berpotensi meningkatkan nilai obligasi.

Sementara pada reksa dana saham, suku bunga yang menurun dapat membuat deposito relatif kurang menarik sehingga sebagian investor mencari instrumen dengan potensi imbal hasil lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan saham di pasar modal. Disebutkan pula bahwa kenaikan reksa dana saham umumnya sejalan dengan pergerakan IHSG, yang tercatat sudah naik lebih dari 15% dalam enam bulan terakhir per 15 Agustus 2025.

Untuk 2025, sejumlah sektor ekonomi disebut berpotensi menopang perekonomian Indonesia. Di antaranya energi terbarukan—seperti surya, panas bumi, air, angin, dan biomassa—yang tengah dikembangkan sebagai alternatif pengganti energi fosil. Sektor teknologi juga diproyeksikan menjadi perhatian, termasuk tren seperti AI, teknologi 6G, dan Internet of Things (IoT). Selain itu, sektor farmasi dinilai layak dicermati karena permintaan obat-obatan yang masih tinggi di masyarakat.

Sektor pertambangan juga disebut masih berpotensi memberikan keuntungan mengingat permintaan pasar yang besar, dengan batu bara menjadi salah satu komoditas yang memiliki permintaan tinggi di luar negeri. Di sisi lain, sektor keuangan, khususnya perbankan, digambarkan sebagai tulang punggung IHSG dengan fokus pada empat bank besar—BCA, BRI, Mandiri, dan BNI—yang dinilai diuntungkan saat suku bunga turun karena peluang penyaluran pinjaman yang meningkat.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai risiko yang dapat muncul seiring perubahan faktor ekonomi dan dinamika pasar. Untuk memanfaatkan tren yang ada, beberapa langkah yang ditekankan antara lain memahami konsep dan risiko investasi, mempelajari faktor yang memengaruhi kinerja, memantau berita ekonomi secara berkala, serta melakukan diversifikasi.

Dengan memahami risiko dan memilih instrumen yang sesuai dengan pengetahuan serta profil risiko, investor dinilai dapat lebih siap menghadapi perubahan tren sekaligus mengelola peluang yang muncul sepanjang 2025.