BERITA TERKINI
Daya Beli Melemah, Pasar Properti Bergeser ke Segmen Harga Lebih Rendah

Daya Beli Melemah, Pasar Properti Bergeser ke Segmen Harga Lebih Rendah

JAKARTA — Pandemi Covid-19 memicu pelemahan daya beli masyarakat yang turut mengubah peta pasar properti. Seiring tekanan ekonomi, permintaan dan penawaran perumahan cenderung bergeser ke segmen harga yang lebih rendah.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, survei IPW menunjukkan adanya pergeseran segmentasi pasar perumahan selama pandemi. Segmen rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar per unit, yang sebelumnya berada pada rata-rata Rp 2,9 miliar per unit, turun menjadi rata-rata Rp 1,9 miliar per unit.

Menurut Ali, penurunan juga terlihat pada segmen lain. Segmentasi pasar untuk harga rumah rata-rata Rp 1 miliar turun ke segmen Rp 800 juta per unit. Sementara itu, segmentasi pasar untuk harga rata-rata Rp 800 juta per unit bergeser menjadi sekitar Rp 500 juta per unit.

Ketidaksesuaian suplai dan permintaan

Di tengah pergeseran tersebut, Ali menilai masih terdapat ketidaksesuaian antara suplai dan permintaan, terutama pada segmen menengah. Saat ini, suplai rumah dengan harga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar disebut masih terbatas.

Ali menyebut kondisi ini dapat menjadi momentum bagi pengembang untuk masuk ke segmen menengah. Pergeseran pasar ke segmen tersebut, menurut dia, telah ditangkap sejumlah pengembang, termasuk pengembang besar seperti Jababeka dan Summarecon yang mulai masuk ke perumahan segmen menengah.

Namun, Ali mengingatkan bahwa sebagian pembeli di segmen menengah merupakan pembeli dari segmen atas yang turun kelas. Di sisi lain, segmen menengah tanggung yang turun kelas menjadi segmen bawah cenderung tidak berminat membeli rumah segmen bawah.

“Yang perlu diwaspadai adalah pergeseran segmen menengah ke bawah karena mereka tidak bisa membeli rumah bersubsidi, tetapi tidak mampu membeli rumah di segmen menengah. Pasar di segmen ini rawan terganggu,” kata Ali dalam webinar bertema “75 Tahun Indonesia Merdeka: Properti Penggerak Perekonomian Nasional” yang diselenggarakan Seven Voices Public Relations, Kamis (17/9/2020).

Hambatan pembiayaan dan harapan dukungan

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida juga menyampaikan bahwa pasar perumahan cenderung bergerak ke segmentasi harga yang lebih rendah. Ia menilai tren penjualan unit rumah di bawah Rp 1 miliar cenderung masih baik, meski terdapat hambatan pada penyaluran kredit perumahan rakyat.

Totok berharap pemerintah memberikan dukungan berupa keringanan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) agar sektor properti dapat lebih bergerak sebagai penghela pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Totok menilai kondisi pandemi membuat tren pasar properti hingga akhir tahun sulit diprediksi. Menurut dia, pasar properti sangat bergantung pada persepsi pasar, sehingga dibutuhkan kebijakan yang tidak menimbulkan sentimen negatif.

Target rumah bersubsidi sulit diprediksi

Sementara itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah menyatakan Apersi menargetkan pembangunan 200.000 rumah bersubsidi pada tahun tersebut. Namun, ia mengakui pandemi Covid-19 membuat pencapaian target menjadi sulit diprediksi.

Junaidi menilai daya beli masyarakat menurun, diikuti penurunan daya angsur kredit. “Tahun ini kami targetkan (pembangunan) 200.000 rumah bersubsidi. Akan tetapi, untuk saat ini, semua (pasar) berantakan dan tidak bisa diprediksi. Kami harapkan badai segera berlalu,” ujarnya.