BERITA TERKINI
Keterbatasan Tata Ruang Jadi Hambatan Investasi di Kota Sukabumi

Keterbatasan Tata Ruang Jadi Hambatan Investasi di Kota Sukabumi

Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Sukabumi tampak lengang pada Kamis (19/2). Namun, di balik suasana tersebut, tersimpan persoalan yang dinilai krusial bagi pergerakan ekonomi daerah: keterbatasan tata ruang di kota dengan luas sekitar 48 kilometer persegi.

Penata Perizinan Ahli Madya DPMPTSP Kota Sukabumi, Saefulloh, menyebut aturan tata ruang kerap menjadi tantangan ketika pemerintah daerah berupaya membuka pintu investasi. Tahun ini, target retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) meningkat dari Rp1,46 miliar menjadi Rp2 miliar. Sementara itu, realisasi pada Januari tercatat baru Rp54 juta.

Menurut Saefulloh, potensi investasi sebenarnya ada, tetapi sejumlah rencana usaha kerap tertahan karena status lahan. Banyak bidang tanah masuk kategori Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), LSD, atau zona hijau. Dari keseluruhan wilayah, sekitar 30 persen telah menjadi permukiman, sedangkan area lainnya sebagian besar berada dalam pengaturan perlindungan lahan. Lahan baku sawah tercatat sekitar 1.300 hektare.

Ia memperkirakan hanya sekitar 250 hektare yang masih berpotensi untuk dikembangkan. Kondisi ini membuat upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berhadapan dengan kebijakan perlindungan pertanian. Saefulloh mencontohkan jalur Warudoyong dan Cibeureum sebagai titik pertumbuhan, tetapi secara umum ruang yang tersedia dinilai sangat terbatas.

Di sisi lain, Kota Sukabumi disebut belum memiliki zona industri. Meski demikian, peluang investasi tetap terbuka. Rencana penanaman modal asing dari Korea serta rencana perluasan perusahaan seperti Gren Aparel menjadi salah satu harapan yang dinilai dapat mendorong aktivitas ekonomi setempat.

Saefulloh menegaskan komitmen kepala daerah dalam mendukung investasi sudah ada, namun masih diperlukan sinkronisasi tata ruang agar rencana pengembangan dapat berjalan. Ia menilai, jika dukungan tata ruang selaras, peningkatan PBG berpotensi terjadi dan dampaknya dapat dirasakan pada ekonomi sekitar. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai elemen.