De-dolarisasi kembali menjadi pembahasan di tengah upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional. Namun, di luar langkah yang bersifat terbuka, muncul kecenderungan baru yang lebih halus dan jarang dipublikasikan, yakni “de-dolarisasi diam-diam”.
Fenomena ini merujuk pada serangkaian langkah strategis bank sentral dan pemerintah untuk mengurangi dominasi dolar AS secara bertahap, tanpa pernyataan besar yang berpotensi memicu gejolak pasar atau tekanan politik.
Dalam praktiknya, de-dolarisasi diam-diam dilakukan dengan mengalihkan sebagian cadangan devisa dari dolar AS ke aset lain, seperti emas atau mata uang tertentu, serta memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam pembiayaan dan transaksi lintas negara.
Sejumlah negara disebut meningkatkan cadangan emas mereka, termasuk China, India, dan Rusia. Kenaikan cadangan emas ini dipandang sebagai sinyal preferensi terhadap aset yang dianggap lebih stabil untuk jangka panjang.
Selain memperbesar porsi emas, diversifikasi juga dilakukan dengan menambah kepemilikan mata uang lain seperti euro dan yuan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi nilai dolar AS sekaligus memperkuat stabilitas keuangan domestik.
Upaya mengurangi dominasi dolar juga dilakukan melalui penerbitan obligasi dalam mata uang lokal. China dan India disebut menjadi contoh negara yang mendorong penerbitan obligasi pemerintah berdenominasi mata uang domestik, sehingga ketergantungan pada instrumen berbasis dolar, seperti obligasi pemerintah AS (Treasury), dapat ditekan.
Penerbitan obligasi dalam mata uang lokal dinilai memberi ruang lebih besar bagi negara dalam mengelola kebijakan moneter. Pada saat yang sama, instrumen tersebut dapat memperluas pasar obligasi domestik dan menarik investor global yang mencari diversifikasi aset.
Aspek lain yang turut menopang de-dolarisasi diam-diam adalah adopsi sistem pembayaran digital lintas negara yang memungkinkan transaksi menggunakan mata uang lokal. Implementasi pembayaran berbasis QR code, misalnya, disebut telah diterapkan di Thailand dan Singapura untuk memudahkan wisatawan bertransaksi tanpa bergantung pada dolar AS.
Teknologi pembayaran ini tidak hanya menyederhanakan transaksi, tetapi juga mendorong penggunaan mata uang lokal serta mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran yang selama ini didominasi dolar AS.
Secara keseluruhan, de-dolarisasi diam-diam menggambarkan perubahan bertahap dalam pengelolaan keuangan global. Melalui diversifikasi cadangan, penguatan pembiayaan berbasis mata uang lokal, dan penerapan teknologi pembayaran baru, sejumlah negara berupaya meningkatkan kedaulatan ekonomi sekaligus mengurangi paparan terhadap ketidakpastian global.

