BERITA TERKINI
DPR Peringatkan Risiko Dampak Konflik AS–Israel dan Iran terhadap Politik-Ekonomi Indonesia

DPR Peringatkan Risiko Dampak Konflik AS–Israel dan Iran terhadap Politik-Ekonomi Indonesia

JAKARTA—Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai berpotensi mengguncang stabilitas global sekaligus membawa dampak terhadap kondisi politik dan ekonomi Indonesia. Peringatan itu disampaikan anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, berdasarkan analisisnya atas perkembangan situasi global.

Firman merujuk pandangan investor global Ray Dalio yang menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai jalur strategis perdagangan minyak dunia. Dalam analisisnya, Dalio memperingatkan bahwa hilangnya kendali Amerika Serikat atas Selat Hormuz dapat menjadi titik balik besar dalam sejarah global, serupa dengan Krisis Terusan Suez yang disebut menandai meredupnya dominasi Inggris sebagai kekuatan dunia.

Menurut Dalio, pihak yang menguasai Selat Hormuz akan memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian global. Jika Iran mampu mempertahankan kendali atas jalur tersebut, Amerika Serikat berpotensi dipersepsikan kalah. Kondisi itu, menurut Dalio, dapat mengguncang kepercayaan dunia terhadap dolar AS dan memicu risiko resesi global.

“Konflik ini bukan sekadar soal harga minyak, tetapi menyangkut siapa yang akan menjadi kekuatan dominan dunia ke depan,” demikian garis besar analisis Dalio yang dikutip Firman.

Setelah mencermati analisis tersebut, Firman mengingatkan bahwa Indonesia tidak akan lepas dari imbas, baik secara politik maupun ekonomi, terutama terkait arah hubungan luar negeri. Ia menilai posisi Indonesia yang dianggap cenderung mendukung Amerika Serikat berpotensi membuat hubungan dengan Iran memburuk, sementara hubungan bilateral dengan Amerika Serikat dapat menguat.

“Konsekuensinya, Indonesia bisa menghadapi tekanan politik maupun ekonomi dari Iran, termasuk potensi sanksi atau reaksi diplomatik lainnya,” ujar Firman kepada awak media di Gedung DPR RI, Jumat (28/3/2026), usai menunaikan salat Jumat.

Dari sisi politik dalam negeri, Firman memetakan kemungkinan munculnya gelombang protes publik, terutama dari kelompok masyarakat yang menilai kebijakan pemerintah terlalu berpihak. Ia juga menyinggung potensi polarisasi politik dengan munculnya kelompok pro-Iran dan pro-Amerika Serikat di tengah masyarakat. Menurutnya, situasi tersebut berisiko memicu ketegangan sosial apabila tidak dikelola dengan baik.

Dalam konteks politik luar negeri, Firman menyebut beberapa kemungkinan yang dapat dihadapi Indonesia, mulai dari memburuknya hubungan dengan Iran akibat persepsi keberpihakan, hingga menguatnya hubungan dengan Amerika Serikat karena kesamaan posisi politik. Ia menekankan perlunya kehati-hatian agar Indonesia tidak salah mengambil posisi strategis di tengah konflik global.

“Di sini perlu kehati-hatiaan. Ada risiko Indonesia menghadapi isolasi internasional, jika Indonesia dianggap salah dalam mengambil posisi strategis di tengah konflik global,” kata Firman.

Selain aspek politik, Firman juga menyoroti risiko keamanan dan ekonomi. Ia menyebut potensi sanksi ekonomi dari negara-negara yang berseberangan, kemungkinan gangguan keamanan dalam negeri akibat aktivitas kelompok yang pro terhadap salah satu pihak, serta tekanan ekonomi apabila konflik memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu rantai perdagangan global.

“Kita juga harus mewaspadai adanya tekanan ekonomi, terutama jika konflik memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu rantai perdagangan global,” ujarnya.

Firman menegaskan pemerintah perlu mengedepankan prinsip politik luar negeri bebas aktif agar tidak terjebak dalam pusaran konflik global. Menurutnya, Indonesia harus menjaga keseimbangan diplomasi untuk melindungi kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.