Jakarta - Pengamat Ekonomi Institut Teknologi Bandung (ITB) Anggoro Budi Nugroho mencatat sedikitnya ada lima tren ekonomi global yang saat ini berpotensi berdampak luas, termasuk bagi Indonesia. Menurutnya, tren tersebut perlu dimitigasi, yakni dengan mengantisipasi dampak negatif sekaligus mencari peluang yang bisa dimanfaatkan.
Tren pertama adalah kekhawatiran stagflasi di Amerika Serikat. Anggoro menjelaskan, stagflasi merupakan kondisi ketika inflasi meningkat namun tidak diiringi pertumbuhan ekonomi, sehingga pertumbuhan melemah dan pengangguran tinggi. Dalam situasi seperti ini, ia menilai investor cenderung memindahkan portofolionya ke instrumen seperti obligasi global, cryptocurrency, dan emas. Anggoro menyebut Indonesia dapat menangkap peluang dengan melakukan roadshow untuk menawarkan obligasi ke bursa-bursa asing.
Tren kedua adalah inflasi yang terjadi bersamaan dengan krisis energi di berbagai negara. Anggoro mencontohkan Amerika Serikat yang menunggu negosiasi Jerman-Rusia yang ditengahi Uni Eropa terkait pipa gas Laut Baltik. Ia juga menyinggung kondisi China yang mengalami krisis batu bara dan tidak mengimpor dari Australia sebagai balasan atas dukungan investigasi Australia terhadap WHO mengenai penanganan Covid-19 di China. Dalam konteks ini, ia menyarankan Indonesia mengambil peluang dari pasar yang terbuka.
Tren ketiga adalah meningkatnya transportasi berbasis listrik. Anggoro menyinggung melonjaknya Tesla yang masuk ke “USD 1 trillion club” sebagai salah satu penanda tren tersebut. Ia menyatakan Indonesia sebaiknya mengambil bagian dan tetap konsisten dalam penyediaan baterai lithium serta menjaga cadangan nikel.
Tren keempat adalah suku bunga rendah yang bertahan di Eropa. Anggoro menilai dampaknya terhadap nilai tukar terbatas selama neraca perdagangan Indonesia dengan Eropa tidak dominan. Seiring tren ini, ia memandang rupiah berada dalam zona aman. Meski demikian, ia mengingatkan Indonesia perlu bersiap terkait aliran bersih likuiditas asing dalam neraca pembayaran.
Tren kelima berkaitan dengan momentum konferensi perubahan iklim COP26 dan dorongan ekonomi hijau. Anggoro mengaitkan tren ini dengan kondisi pandemi Covid-19 yang melandai, sehingga konsumsi global bergerak sementara sisi penawaran belum siap, yang kemudian memicu inflasi di pasar barang dan jasa. Pada saat yang sama, sentimen emisi karbon menekan konsumsi gas dan energi. Menurut Anggoro, harga minyak berpotensi tertahan dan dapat membuka ruang pengalihan subsidi dalam APBN RI ke sektor lain untuk kebutuhan penyeimbangan, refocusing, dan fine-tuning, termasuk percepatan penanganan Covid-19 serta pembayaran utang.

