BERITA TERKINI
Ekonom: Risiko Arus Keluar Modal Masih Terkendali Jika BI Pangkas Suku Bunga 25 Bps

Ekonom: Risiko Arus Keluar Modal Masih Terkendali Jika BI Pangkas Suku Bunga 25 Bps

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai risiko arus keluar modal (outflow) masih relatif terkendali apabila Bank Indonesia (BI) memangkas BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen pada Oktober ini.

Menurut Josua, pemangkasan kecil seperti 25 bps cenderung “manageable” selama disertai bauran kebijakan yang agresif. Ia menekankan perlunya intervensi yang terukur dengan berbagai instrumen, baik di pasar spot maupun melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), sebagaimana dilakukan pada bulan sebelumnya dan dinilai efektif menahan tekanan di pasar valuta asing ketika terjadi outflow besar.

Selain intervensi, Josua menyebut BI perlu menjaga daya tarik instrumen berdenominasi rupiah jangka pendek, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Upaya tersebut dapat dilakukan melalui operasi pasar serta panduan imbal hasil yang jelas agar investor tidak keluar secara bersamaan.

Ia juga menilai stabilisasi dapat diperkuat dengan menambah bantalan cadangan devisa, antara lain melalui penarikan pinjaman atau penerbitan obligasi valas pemerintah yang telah direncanakan. Langkah ini dinilai dapat membantu menstabilkan ekspektasi pasar.

Dari sisi komunikasi kebijakan, Josua menekankan pentingnya narasi yang jelas bahwa penurunan suku bunga merupakan langkah “kalibrasi” yang terukur, bukan pelonggaran tanpa batas. BI juga perlu menegaskan bahwa arah kebijakan berikutnya tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi (data-dependent).

Josua melihat peluang penurunan suku bunga 25 bps menjadi 4,50 persen yang akan diumumkan melalui hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober. Menurutnya, ruang kebijakan terbuka karena inflasi inti masih terkendali dan tingkat suku bunga riil (real rate) dinilai masih cukup tinggi. Dengan BI-Rate 4,75 persen dan ekspektasi inflasi inti ke depan yang rendah, ia menilai ruang untuk menurunkan bunga riil masih ada tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Ia menambahkan, permintaan domestik belum sepenuhnya pulih sehingga penurunan suku bunga dapat membantu mendorong konsumsi dan kredit. Likuiditas perbankan yang membaik juga dinilai membuat transmisi kebijakan moneter lebih efektif, sehingga penurunan bunga lebih cepat tersalurkan ke sektor riil.

Di sisi lain, Josua menilai tekanan terhadap rupiah relatif terjaga meski terjadi outflow. Kondisi ini, menurutnya, ditopang surplus perdagangan komoditas, intervensi BI di pasar spot dan DNDF, serta faktor revaluasi cadangan devisa, yang memberi ruang lebih aman jika BI memangkas suku bunga.

Namun, bila BI memilih menahan suku bunga di level 4,75 persen, Josua menilai keputusan itu kemungkinan didasari sejumlah pertimbangan. Penundaan bisa menjadi upaya mengelola sinyal ke pasar setelah pemangkasan sebelumnya dibaca sebagai toleransi terhadap pelemahan rupiah yang memicu lonjakan hedging.

Selain itu, BI dapat menunggu kejelasan keputusan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, mengingat jadwal FOMC yang berdekatan agar diferensial suku bunga tidak menyempit terlalu jauh. Dari sisi teknis, penahanan suku bunga juga memberi waktu bagi BI mengelola arus portofolio dan likuiditas domestik di tengah meningkatnya jatuh tempo SRBI pada Oktober-November.