BERITA TERKINI
Ekonomi 2026 Dibayangi Ketidakpastian Global, Indonesia Andalkan Stabilitas Makro dan Pelonggaran Suku Bunga

Ekonomi 2026 Dibayangi Ketidakpastian Global, Indonesia Andalkan Stabilitas Makro dan Pelonggaran Suku Bunga

Sebuah forum pada Kamis, 19 Februari 2026 membahas prospek ekonomi tahun ini dengan menekankan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan sebagai penguatan ekonomi nasional. Paparan dalam forum tersebut menilai 2026 menjadi periode krusial untuk memastikan laju ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global yang masih kompleks.

Pembahasan diawali dari kondisi ekonomi dunia, lalu mengarah ke tantangan industri perbankan, peluang yang dapat dimanfaatkan, serta strategi yang disiapkan untuk menghadapi 2026.

Dari sisi global, ketidakpastian dinilai masih tinggi. Hal ini tercermin dari World Uncertainty Index yang tetap berada pada level tinggi meski mulai menurun. Sejumlah peristiwa disebut turut mendorong ketidakpastian pasar, mulai dari invasi Rusia ke Ukraina, konflik di Timur Tengah, kebijakan tarif Amerika Serikat, hingga krisis perbankan di AS seperti kasus Silicon Valley Bank dan First Republic.

Selain itu, Geopolitical Risk Index menunjukkan tren meningkat, terutama menjelang akhir 2025. Kondisi tersebut mengindikasikan konflik dan ketegangan antarnegara belum sepenuhnya mereda, sehingga berpotensi memengaruhi arus perdagangan, investasi, dan stabilitas keuangan global.

Di tengah situasi itu, ekonomi global diproyeksikan melambat pada 2026. Sejumlah lembaga internasional seperti OECD, World Bank, dan IMF memperkirakan pertumbuhan dunia tidak sekuat periode sebelumnya. Negara maju diperkirakan tumbuh relatif datar karena tantangan struktural, antara lain produktivitas yang melemah, beban fiskal tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter. Sementara negara berkembang masih menjadi motor pertumbuhan, meski momentumnya berpotensi tertahan oleh perlambatan perdagangan dunia dan fragmentasi rantai pasok.

Amerika Serikat, kawasan Euro, dan Jepang diperkirakan mencatat pertumbuhan terbatas. China dan India tetap menjadi kontributor utama di kelompok negara berkembang walau menghadapi tekanan eksternal. Indonesia disebut tetap menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil dibanding banyak negara lain.

Di dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai bergerak positif. Setelah tumbuh 5,05% pada 2023 dan 5,03% pada 2024, ekonomi diperkirakan mencapai 5,11% pada 2025. Pada kuartal IV-2025, pertumbuhan disebut meningkat signifikan, didorong konsumsi rumah tangga dan investasi.

Struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih didominasi konsumsi rumah tangga dengan porsi lebih dari separuh total PDB, disusul kontribusi investasi dan ekspor bersih. Paparan juga menilai daya beli kelompok kelas atas relatif solid, sehingga menjaga permintaan pada segmen tertentu. Kondisi ini dipandang membuka peluang penyaluran kredit perbankan, terutama kredit korporasi yang melayani pasar menengah-atas, meski tetap dilakukan secara selektif.

Secara global, pertumbuhan 2025 diperkirakan stabil di sekitar 3,3% namun berpotensi melambat pada 2026. Di saat yang sama, inflasi global menunjukkan tren menurun yang dinilai dapat memperbaiki daya beli riil masyarakat.

Di Amerika Serikat, bank sentral telah menurunkan Fed Funds Rate sebesar 75 basis poin pada 2025. Siklus pelonggaran diperkirakan berlanjut pada 2026 dengan tambahan penurunan 50 basis poin. Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan semakin solid pada 2026 dengan dukungan inflasi yang terjaga dan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Inflasi Indonesia disebut tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) 1,5%–3,5%. Sepanjang 2025, BI-Rate telah turun 125 basis poin dan diperkirakan kembali turun pada 2026. Ruang penurunan ini dinilai terbuka karena inflasi relatif terkendali dan stabilitas makro terjaga. Dalam paparan tersebut, BI-Rate diperkirakan turun 50 basis poin pada 2026 dari 4,75% menjadi 4,25%.

Memasuki sektor perbankan, kondisi permodalan dan likuiditas perbankan nasional dinilai masih solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tetap tinggi, likuiditas memadai, dan rasio kredit bermasalah (NPL) masih terkendali. Namun pertumbuhan kredit disebut masih berada di kisaran satu digit.

Data menunjukkan pertumbuhan aset, dana pihak ketiga, dan kredit tidak seagresif beberapa tahun sebelumnya. Loan to Deposit Ratio relatif stabil, margin bunga bersih cukup terjaga, dan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga menunjukkan kondisi yang aman.

Meski demikian, survei perbankan Bank Indonesia mengindikasikan pelemahan permintaan kredit baru pada 2025, terutama pada segmen konsumsi, UMKM KUR, dan non-UMKM. Kondisi ini diperkuat oleh meningkatnya undisbursed loan, yakni kredit yang sudah disetujui tetapi belum ditarik. Nilainya disebut terus meningkat dari masa pra-pandemi hingga 2025, mencerminkan sikap menunggu pelaku usaha dalam melakukan ekspansi.

Kredit UMKM juga dilaporkan melemah pertumbuhannya, sementara NPL cenderung meningkat sejak akhir 2024. Hal ini dipandang sebagai sinyal bahwa segmen usaha kecil masih menghadapi tekanan.

Dari sisi sektoral, perlambatan terjadi pada tiga kontributor utama PDB—industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan—yang juga menyerap tenaga kerja besar. Ketika pertumbuhan ketiga sektor itu melambat, permintaan kredit ikut terpengaruh. Data pertumbuhan kredit per sektor menunjukkan ketiga sektor utama tersebut belum menunjukkan akselerasi signifikan dibanding sektor lain seperti transportasi atau kesehatan, sehingga pertumbuhan kredit agregat masih terbatas.

Survei KADIN-PERBANAS turut menunjukkan adanya kesenjangan persepsi. Mayoritas responden menilai kebijakan fiskal dan moneter sudah pro-growth dan dipercaya mendorong pertumbuhan. Namun di tingkat perusahaan, banyak yang belum merasakan dampak langsung sehingga belum terdorong melakukan ekspansi atau investasi baru. Kondisi ini menggambarkan adanya jarak antara desain kebijakan makro dan implementasi serta dampaknya di sektor riil.

Untuk 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan sedikit lebih tinggi dibanding 2025, namun pertumbuhan kredit diproyeksikan tetap berada di kisaran satu digit. BI dan perbankan dalam paparan tersebut memprediksi era pertumbuhan kredit single digit masih berlanjut pada 2026.

Salah satu tantangan utama yang disorot adalah lemahnya daya beli kelas menengah-bawah. Indeks daya beli menunjukkan kelompok ini masih berada di bawah kondisi normal sebelum pandemi, dengan tekanan biaya hidup dan pertumbuhan pendapatan riil yang belum kuat membatasi ruang konsumsi.

Di saat yang sama, daya beli kelas atas disebut tetap solid. Saldo tabungan kelompok atas meningkat signifikan, yang menunjukkan konsentrasi likuiditas pada kelompok berpendapatan tinggi. Kelompok menengah-atas cenderung stagnan, sementara kelompok menengah-bawah dan bawah menunjukkan pertumbuhan tabungan yang melambat atau stagnan, menandakan tekanan likuiditas.

Dengan inflasi yang relatif terjaga, pelonggaran suku bunga dinilai dapat mendukung momentum pertumbuhan tanpa mengganggu stabilitas. Paparan juga menilai, bila program prioritas APBN 2026 berjalan efektif, dampaknya diperkirakan dapat menambah pertumbuhan ekonomi sekitar 0,35 poin persentase, meningkatkan pertumbuhan kredit 0,66 poin persentase, serta mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga 0,76 poin persentase.

Program prioritas tersebut mencakup ketahanan pangan—dengan alokasi untuk produksi, subsidi pupuk, bantuan kerawanan pangan, serta distribusi—serta sektor pendidikan melalui pembangunan sekolah unggulan, pemberian beasiswa, dan penguatan kualitas sumber daya manusia.

Secara keseluruhan, 2026 dinilai menawarkan kombinasi peluang dan tantangan. Ketidakpastian global masih membayangi, pertumbuhan kredit domestik berada dalam fase moderat, dan daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih terutama pada kelas menengah-bawah. Namun stabilitas makro yang terjaga, inflasi yang terkendali, ruang pelonggaran moneter, serta program prioritas pemerintah dipandang menjadi fondasi untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Dalam penutupnya, paparan menekankan pentingnya memastikan kebijakan yang dipercaya di tingkat makro benar-benar menghadirkan dampak nyata bagi dunia usaha dan rumah tangga, sehingga momentum pertumbuhan tidak hanya terjaga tetapi juga menguat sebagai fondasi ekonomi 2026.