Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 tercatat lebih rendah dibanding Vietnam, berdasarkan laporan badan statistik masing-masing negara. Badan Pusat Statistik (BPS) RI melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada triwulan II 2025 dibanding triwulan II 2024.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 tumbuh 4,04 persen dibanding triwulan I 2025. Sementara itu, National Statistics Office (NSO) Vietnam mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) negaranya pada triwulan II 2025 mencapai 7,96 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam laporan BPS bertajuk “Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan II-2025”, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2025 mencapai Rp 5.947,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.396,3 triliun.
Dari sisi produksi, BPS mencatat lapangan usaha jasa lainnya mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 11,31 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 10,67 persen.
Untuk kinerja semesteran, ekonomi Indonesia pada semester I 2025 tumbuh 4,99 persen (cumulative-to-cumulative/c-to-c) dibanding semester I 2024. Pada periode tersebut, dari sisi produksi, lapangan usaha jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,59 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tumbuh 8,57 persen.
Secara spasial, BPS menyebut Pulau Jawa masih menjadi motor utama perekonomian nasional pada triwulan II 2025. Kontribusi Jawa terhadap PDB nasional mencapai 56,94 persen dengan pertumbuhan ekonomi 5,24 persen (y-on-y). Kontributor berikutnya adalah Sumatera sebesar 22,20 persen, Kalimantan 8,09 persen, Sulawesi 7,21 persen, Bali dan Nusa Tenggara 2,83 persen, serta Maluku dan Papua 2,73 persen.
BPS juga mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi (y-on-y) terjadi pada kelompok provinsi di Pulau Sulawesi sebesar 5,83 persen, disusul Pulau Jawa 5,24 persen, Pulau Sumatera 4,96 persen, dan Pulau Kalimantan 4,95 persen. Pertumbuhan di Pulau Bali dan Nusa Tenggara tercatat 3,73 persen, sementara di Pulau Maluku dan Papua sebesar 3,33 persen.
Di Vietnam, NSO melaporkan pertumbuhan PDB triwulan II 2025 sebesar 7,96 persen, meski lebih rendah dibanding laju 8,56 persen pada triwulan II 2022 dalam catatan periode 2020–2025. NSO mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 3,89 persen dengan kontribusi 5,19 persen terhadap total nilai tambah perekonomian. Sektor industri dan konstruksi tumbuh 8,97 persen dengan kontribusi 43,63 persen, sedangkan sektor jasa meningkat 8,46 persen dan berkontribusi 51,18 persen.
Untuk enam bulan pertama 2025, NSO menyatakan PDB Vietnam meningkat 7,52 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dan disebut sebagai level tertinggi untuk enam bulan pertama dalam periode 2011–2025. Dalam total pertumbuhan nilai tambah seluruh perekonomian pada periode tersebut, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan meningkat 3,84 persen dengan kontribusi 5,59 persen; sektor industri dan konstruksi naik 8,33 persen dengan kontribusi 42,20 persen; serta sektor jasa tumbuh 8,14 persen dengan kontribusi 52,21 persen.
NSO juga merinci bahwa nilai tambah sektor pertanian pada enam bulan pertama 2025 tumbuh 3,51 persen dibanding periode yang sama 2024 dan berkontribusi 0,29 poin persentase terhadap total pertumbuhan nilai tambah perekonomian. Sektor kehutanan meningkat 7,42 persen dengan kontribusi 0,04 poin persentase, sementara sektor perikanan tumbuh 4,21 persen dengan kontribusi 0,10 poin persentase.
Di sektor industri dan konstruksi, NSO mencatat nilai tambah industri pada enam bulan pertama 2025 meningkat 8,07 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini sedikit lebih rendah dari 8,89 persen pada periode yang sama tahun 2022 dalam catatan 2020–2025. Meski demikian, sektor industri dan konstruksi disebut memberikan kontribusi 2,64 poin terhadap tingkat pertumbuhan total nilai tambah seluruh ekonomi.

