Ekonomi Jawa Timur (Jatim) mencatat kinerja positif hingga akhir 2025. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim pada 5 Februari 2026, ekonomi Jatim pada Triwulan IV-2025 tumbuh 5,85 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Jatim mencapai 5,33 persen (cumulative-to-cumulative/c-to-c), lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Capaian ini dinilai mencerminkan konsistensi akselerasi ekonomi daerah di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi secara yoy terjadi pada sektor Jasa Lainnya yang tumbuh 9,86 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,66 persen, yang menggambarkan meningkatnya aktivitas investasi di daerah tersebut.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan capaian pertumbuhan ekonomi tersebut merupakan hasil kerja kolaboratif berbagai pihak dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Alhamdulillah hingga penghujung 2025, pertumbuhan ekonomi Jatim tetap terjaga dan inklusif di tengah berbagai dinamika nasional,” ujar Khofifah di Surabaya, Selasa (10/2/2026).
Khofifah menilai pertumbuhan investasi menjadi indikator kuatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi Jawa Timur. Ia juga menekankan pentingnya menjaga iklim investasi agar daerah tetap menjadi tujuan utama investor.
Dalam struktur ekonomi Jawa Timur, kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan sebesar 31,32 persen, disusul perdagangan 18,55 persen, dan pertanian 10,74 persen. Jawa Timur tercatat sebagai kontributor ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi 25,06 persen, serta penyumbang terbesar kedua terhadap perekonomian nasional sebesar 14,21 persen.
Dari sisi nilai, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp3.403,17 triliun, dengan PDRB per kapita sebesar Rp80,86 juta.

