Di kawasan Neukolln, Berlin, Jerman, sebuah bangunan seluas 2.000 meter persegi yang pernah menjadi gudang penyimpanan dan pabrik minuman kini beralih fungsi menjadi ruang eksperimen ekonomi melingkar. Sejak 2016, tempat bernama CRCLR house (dibaca: Circular House) menjadi pusat kegiatan anak muda Berlin untuk berdiskusi, menguji gagasan, serta mencari cara menerapkan model ekonomi yang berupaya menekan timbulan sampah.
Berbeda dari ekonomi linear yang mengikuti pola “ambil–buat–buang” (take-make-dispose), ekonomi melingkar berupaya mempertahankan nilai produk selama mungkin agar bisa digunakan berulang kali. Prinsipnya menekan sampah hingga mendekati “zero waste” melalui daur ulang (recycling), penggunaan kembali (reuse), atau produksi ulang (remanufacture). Pendekatan ini kerap dipandang lebih ramah lingkungan sekaligus relevan untuk menjawab keterbatasan sumber daya.
Salah satu aktivis di CRCLR house, Lars Zimmerman—yang memperkenalkan diri sebagai seniman dan ekonom—menjelaskan bahwa sejak awal menempati ruang tersebut, mereka berusaha tidak membuang apa pun. “Sejak awal menempati ruangan ini, kami tidak membuang apapun. Kami berusaha memanfaatkan segala barang yang ada dan memaksimalkan kegunaannya,” ujar Zimmerman pada November 2017 saat menyambut rombongan wartawan dari sejumlah negara Asia.
Di dalam CRCLR house, upaya memanjangkan usia pakai barang terlihat dari detail ruang. Ada kayu bekas meja yang dipasang di pintu dengan tulisan “I used to be a table.” Rak dibuat dari bekas tempat minuman. Bahkan terdapat ruang yang “dinding”-nya dibangun dari baju-baju bekas yang dibundel untuk menjaga kehangatan saat musim dingin.
Interior CRCLR house dirancang lapang, minim sekat, dan menghindari struktur permanen. Tempat ini disewakan untuk berbagai acara seperti pameran, pertunjukan, dan diskusi. Penyewaan ruang berikut pembuatan konsep acara menjadi salah satu cara utama tim memperoleh pendapatan, sementara sebagian kecil area digunakan sebagai co-working space.
Ketika mempersiapkan ruang untuk musim dingin, pertanyaan yang mereka ajukan adalah bagaimana membangun ruang sementara tanpa menciptakan sampah baru setelah struktur dibongkar. Isu ini terkait dengan data bahwa di Jerman, 52% sampah berasal dari konstruksi bangunan. Mereka menargetkan ruang yang hangat, memberi “napas” baru pada bahan bekas, dan memastikan struktur sementara tidak berakhir menjadi limbah.
Dalam gagasan ekonomi melingkar, setiap komponen produk idealnya bisa dibentuk dan digunakan kembali setelah “kehidupan” pertamanya. Pendekatan ini digambarkan menyerupai siklus di alam: tidak ada yang benar-benar menjadi sampah karena dapat diciptakan ulang atau menjadi bagian dari produk lain. Karena itu, ekonomi melingkar dipahami bukan sekadar soal mendaur ulang, melainkan cara pandang yang lebih menyeluruh—mulai dari produsen yang memikirkan siklus hidup produk hingga desain modular agar komponen bisa dilepas, dipadukan, dan digunakan kembali.
Dari sisi konsumen, model ini menuntut perubahan kebiasaan: sebelum membeli, konsumen diharapkan mampu membayangkan setidaknya tiga kegunaan sebuah barang, baik dalam siklus penggunaan pertama maupun berikutnya. Dalam konteks Eropa, McKincey Consultant memperkirakan pendekatan ini dapat menghemat biaya produksi hingga 630 juta dollar setiap tahun.
Di Jerman, ekonomi sirkular juga tampak sebagai bentuk aktivisme yang memengaruhi gaya hidup. Tren ini disebut tumbuh subur di kalangan muda, termasuk para pengusaha rintisan (start up) di Berlin. Salah satu contoh yang disebut adalah Originally Unverpackt (OU), supermarket tanpa sampah kemasan yang didirikan Sara Wold dan Milena Glimbovski sejak 2014.
Di OU, konsumen diminta membawa wadah sendiri dari rumah dan mengambil makanan sesuai kebutuhan untuk menghindari sisa akibat pembelian produk berkemasan. Produk seperti pasta, sereal, dan kacang diambil dari gravity storage unit langsung ke wadah pribadi, sehingga pelanggan tidak menyentuh barang secara langsung untuk memperkecil risiko kontaminasi. Selain makanan—termasuk daging dan produk olahan susu—OU juga menjual produk nonmakanan seperti sampo dan bahan pembersih. Mereka mengupayakan sumber produk lokal sebanyak mungkin untuk memangkas kebutuhan bahan bakar distribusi.
Dari sisi pendanaan, OU disebut memperoleh modal dari investor pribadi dan juga berhasil mengumpulkan investasi melalui crowd funding. Disebut pula bahwa ide serupa pernah muncul di London melalui Unpackaged, namun usaha itu tutup setelah beroperasi lima tahun.
Di luar Jerman, persoalan sampah plastik juga mendorong upaya pemanfaatan ulang yang tidak lazim. Di kepulauan Bocas del Toro, Panama, seorang entrepreneur bernama Robert Bezeau menggunakan sekitar 40.000 botol plastik PET untuk membangun struktur yang digambarkan mirip istana abad pertengahan. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran tentang sampah plastik, khususnya ancamannya terhadap lautan.
Menurut kelompok peneliti The Future Ocean, setiap tahun lebih dari 300 juta ton sampah plastik diproduksi, namun hanya sebagian kecil yang didaur ulang, sementara sebagian besar berakhir di laut. Bezeau, yang awalnya datang untuk pensiun, beralih menjadi aktivis anti-sampah plastik setelah menjadi relawan pemerintah lokal untuk menganalisis produksi sampah. Di pulau seluas 62 kilometer persegi itu, sekitar 1,5 juta botol plastik disebut menumpuk setiap tahun. Botol PET dikumpulkan dan disusun dalam kerangkeng dari rangka baja dan kawat sebagai elemen fasad; tiap komponen dapat menampung 120 botol berukuran 1,5 liter.
Bezeau menyebut konstruksi semacam itu cocok untuk bungalow sederhana dan berencana mendirikan pusat pelatihan agar warga dapat memanfaatkan botol plastik sebagai material bangunan murah. Salah satu keuntungan yang disebut adalah udara dalam botol dapat membantu melindungi dari panas matahari. Struktur “istana” itu dilaporkan masih dalam pembangunan dan direncanakan menjadi resor wisata tempat turis belajar tentang masalah sampah plastik, dengan pemasukan yang akan digunakan untuk pelatihan.
Di tingkat kebijakan, ekonomi melingkar disebut sebagai arah masa depan ekonomi Eropa. Model ini diyakini dapat meningkatkan efisiensi sumber daya di Uni Eropa sebesar 30% pada 2030, yang diproyeksikan akan menaikkan produk domestik bruto Uni Eropa hampir 1% serta menciptakan tambahan dua juta pekerjaan.
Di Indonesia, percakapan mengenai ekonomi melingkar disebut sudah mulai berlangsung, salah satunya melalui Indo Waste 2017 di Jakarta pada Juli 2017, dengan pembicara dan peserta dari kalangan korporasi, pemerintah, dan LSM. Namun, penerapan ekonomi melingkar sebagai gaya hidup dinilai masih jauh untuk menjadi tren di kota-kota besar. Salah satu contoh yang disorot adalah kebijakan plastik berbayar yang sempat berjalan pada Februari–Mei 2016, namun kelanjutannya dinilai tidak jelas karena pelaksanaannya diserahkan kepada masing-masing peritel.
Perubahan menuju ekonomi melingkar dinilai membutuhkan pergeseran mendasar dalam pola pikir individu agar lebih peduli dan merasa bertanggung jawab secara sosial dan ekologis. Perubahan semacam ini kerap dipimpin kaum muda. Dengan pertumbuhan start up di Indonesia yang disebut mencapai 2.000 per tahun (data 2016), muncul harapan lebih banyak pelaku usaha tertarik merintis bisnis berbasis konsep ekonomi melingkar.

