Barang-barang jadul atau vintage kembali naik daun dan kini banyak dicari, bahkan kerap diperebutkan. Beragam produk seperti piringan hitam (vinyl), kamera digital, aksesori, hingga pakaian lawas kembali menjadi tren, mendorong lonjakan permintaan di pasaran.
Fenomena ini kerap disebut sebagai ekonomi nostalgia, yakni situasi ketika ketertarikan pada masa lalu tidak hanya berhenti pada kenangan atau hobi koleksi, tetapi ikut menciptakan peluang dan nilai ekonomi baru. Nostalgia yang sebelumnya dianggap sekadar urusan personal, kini memengaruhi cara orang berbelanja dan menentukan nilai sebuah barang.
Secara psikologis, memori dapat memengaruhi emosi seseorang. Menariknya, generasi muda yang tidak mengalami langsung era tertentu justru tertarik pada barang lawas karena dianggap unik dan “berbeda dari yang lain”. Faktor ini pula yang membuat gaya berpakaian vintage kerap dinilai lebih otentik dan nyentrik ketika dipakai di masa kini.
Di luar aspek emosional, barang jadul juga mulai dipandang sebagai aset investasi. Sejumlah item seperti jam tangan antik, piringan hitam langka, hingga kendaraan dari seri tertentu dapat memiliki harga tinggi dan berpotensi terus naik. Kondisi tersebut membuat sebagian orang memburunya bukan hanya untuk dipakai, tetapi juga sebagai simpanan bernilai.
Peran media sosial turut mempercepat tren ini. Figur publik dan influencer yang menampilkan gaya retro dapat memengaruhi pengikutnya. Gaya yang dianggap menarik kemudian menjadi rujukan, mendorong orang meluangkan waktu untuk mencari barang vintage yang dirasa paling sesuai dengan kepribadian mereka.
Popularitas barang lawas juga ditopang pengalaman berburu yang memberi kepuasan tersendiri. Bagi sebagian orang, menemukan item tertentu terasa seperti menemukan “harta karun”, sehingga proses pencarian menjadi bagian dari daya tariknya.
Di sisi lain, generasi muda juga disebut menghargai merek dengan sejarah panjang. Data yang dikutip menyebutkan lebih dari separuh konsumen Gen Z lebih menyukai merek yang sudah lama berdiri karena dinilai lebih otentik dan kredibel.
Pilihan membeli barang lawas atau second-hand juga kerap dikaitkan dengan isu keberlanjutan. Praktik ini dipandang berbeda dengan fast fashion yang dinilai mendorong konsumsi berlebihan dan menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Selain nostalgia, muncul pula tren yang disebut newstalgia, yakni nostalgia lama dengan sentuhan baru. Dalam konsep ini, elemen masa lalu tidak sekadar dihidupkan kembali, tetapi diinterpretasi ulang agar sesuai dengan selera dan konteks masa kini. Contohnya, kamera digital lawas yang kembali populer bukan hanya dipakai untuk dokumentasi, melainkan juga menjadi simbol estetika yang berbeda dari hasil kamera ponsel modern.
Kombinasi nilai emosional dan nilai barang itu sendiri menciptakan “nilai ganda” bagi posisi barang jadul di masyarakat. Nostalgia yang awalnya hanya perasaan personal kini berkembang menjadi faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi, sekaligus membentuk pasar baru.
Fenomena ini menunjukkan tren tidak selalu bergerak maju, tetapi bisa berputar. Barang jadul tidak lagi sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari ekonomi baru yang menawarkan keunikan, peluang investasi, serta pilihan konsumsi yang dianggap lebih berkelanjutan.

