Tahun 2026 diproyeksikan menjadi fase penting bagi perekonomian Sulawesi Selatan setelah melewati dinamika pemulihan dan tekanan global sepanjang 2024–2025. Arah pertumbuhan ekonomi daerah ke depan dinilai sangat dipengaruhi stabilitas makro, daya beli masyarakat, serta kemampuan pemerintah daerah dalam mengoptimalkan sektor-sektor unggulan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, kinerja ekonomi daerah menunjukkan tren yang relatif stabil selama 2024 hingga 2025. Pada Triwulan IV 2024, pertumbuhan ekonomi Sulsel tercatat berada di atas 5 persen secara tahunan, mencerminkan ketahanan konsumsi rumah tangga dan aktivitas sektor jasa.
Memasuki 2025, pertumbuhan sempat mencapai puncak pada Triwulan I sebelum melambat secara moderat pada Triwulan II. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia Perwakilan Sulsel mencatat konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Secara umum, pola pertumbuhan sepanjang 2024–2025 menunjukkan fluktuasi yang moderat dengan fondasi ekonomi yang dinilai cukup kuat sebagai pijakan menuju 2026, meski tekanan masih muncul pada periode tertentu.
Sejumlah sektor dipandang berperan besar dalam menentukan arah pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada 2026. Pertama, sektor pertanian masih menjadi fondasi utama, terutama melalui produksi padi, jagung, dan komoditas perikanan yang berpengaruh langsung terhadap inflasi daerah serta stabilitas harga pangan.
Kedua, penguatan industri pengolahan berbasis komoditas lokal dinilai menjadi peluang strategis. Arah pembangunan ekonomi daerah mendorong peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi, sehingga pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu fokus penting.
Ketiga, sektor perdagangan, jasa, dan logistik tetap bertumpu pada peran Kota Makassar sebagai pusat perdagangan dan distribusi kawasan Indonesia Timur. Aktivitas ekonomi Makassar dan sekitarnya menjadi penggerak utama bagi sektor jasa serta perputaran barang.
Keempat, UMKM dan ekonomi digital dipandang memiliki ruang ekspansi melalui transformasi digital. Pemanfaatan platform daring, penguatan ekosistem digital, serta penggunaan sistem pembayaran non-tunai disebut membuka peluang perluasan pasar bagi pelaku usaha di Sulawesi Selatan.
Dari sisi peluang, posisi geografis Sulawesi Selatan sebagai simpul logistik kawasan timur Indonesia dinilai memberikan keunggulan kompetitif. Pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas antarwilayah, serta sinergi kebijakan pusat dan daerah dipandang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Namun, sejumlah risiko juga perlu diantisipasi. Inflasi pangan masih menjadi tantangan utama, khususnya jika terjadi gangguan distribusi dan cuaca ekstrem. Selain itu, ketergantungan pada sektor primer membuat perekonomian Sulsel tetap rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Secara keseluruhan, prospek ekonomi Sulawesi Selatan pada 2026 dinilai relatif positif dengan peluang pertumbuhan yang tetap terbuka. Meski demikian, keberlanjutan pertumbuhan bergantung pada pengelolaan risiko, penguatan sektor unggulan, serta pemerataan pembangunan antarwilayah.

