JAKARTA — Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan ekspor hortikultura nasional pada Semester I-2025 meningkat 49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurutnya, kenaikan tersebut mencerminkan daya saing produk hortikultura Indonesia yang kian menguat di pasar global.
Pernyataan itu disampaikan Budi saat kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kementerian Pertanian. Ia mengatakan, peningkatan ekspor sejalan dengan arahan Presiden agar ketahanan pangan dalam negeri terpenuhi sekaligus membuka peluang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.
Budi menilai capaian tersebut didukung sinergi lintas kementerian. Kementerian Pertanian berperan menjaga pasokan dan produktivitas, sementara Kementerian Perdagangan mendorong pembukaan akses pasar ekspor serta memastikan distribusi pangan di dalam negeri berjalan lancar.
Ia juga menjelaskan Kemendag memantau perkembangan harga pangan secara nasional melalui SP2KP. Koordinasi dilakukan apabila muncul kecenderungan kenaikan harga. Menurut Budi, hingga saat ini kondisi relatif aman dan stabilitas harga tetap terjaga.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan fokusnya menekan impor pangan sembari mendorong ekspor produk pertanian. Ia menyebut, dengan tidak adanya impor pangan, penghematan nilai impor diperkirakan dapat mencapai hingga Rp100 triliun.
Amran menyampaikan perkiraan tersebut merujuk pada data yang disebut berasal dari BPS dan FAO, serta menyebut nilai impor yang tidak dilakukan mencapai Rp80 triliun, dengan komoditas jagung disebut dapat membawa nilai hingga Rp100 triliun. Ia menekankan arah kebijakan untuk menghentikan impor dan meningkatkan ekspor sesuai pernyataan Menteri Perdagangan.

