BERITA TERKINI
Emas Masih Bullish, Proyeksi Pekan Depan Mengarah ke USD3.800 dengan Risiko Koreksi

Emas Masih Bullish, Proyeksi Pekan Depan Mengarah ke USD3.800 dengan Risiko Koreksi

Harga emas (XAUUSD) masih menunjukkan tren menguat di tengah dinamika kebijakan moneter global. Sentimen pasar cenderung positif seiring prospek pelonggaran kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi pemangkasan suku bunga menjadi faktor utama yang menjaga minat beli emas tetap tinggi.

Pelaku pasar menilai peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan mendatang sebagai skenario yang hampir pasti. Bahkan, ruang pemangkasan yang lebih agresif dinilai terbuka apabila data ekonomi AS melemah.

Kondisi ini dinilai menguntungkan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap. Saat suku bunga turun, opportunity cost memegang aset tanpa bunga menjadi lebih rendah. Pada saat yang sama, dolar AS cenderung melemah, sehingga turut menopang kenaikan harga emas.

Meski demikian, Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengingatkan bahwa data ekonomi AS yang lebih kuat dapat memicu penguatan sementara pada dolar dan imbal hasil obligasi, yang berpotensi memberi tekanan sesaat terhadap harga emas. Dari sisi teknikal, ia menilai tren bullish masih dominan.

“Jika tekanan tren bullish berlanjut, XAUUSD berpotensi naik hingga ke level sekitar USD3.800 pada minggu depan,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, Sabtu, 20 September 2025.

Menurutnya, level tersebut menjadi target penting yang berpeluang dicapai apabila sentimen pasar tetap konsisten terhadap prospek pemangkasan suku bunga. Namun ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap potensi koreksi mendadak.

“Jika harga berbalik arah dan menembus key point di USD3.450, maka potensi penurunan lebih lanjut ke USD3.300 pada minggu depan tidak dapat diabaikan,” tambahnya.

Dari sisi fundamental, data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan tanda perlambatan, meski belum mengarah pada kemerosotan tajam. Sementara itu, aktivitas manufaktur mulai menampakkan sedikit perbaikan. Meski begitu, perhatian pasar masih tertuju pada data inflasi yang akan segera dirilis karena dinilai menjadi penentu penting arah kebijakan The Fed berikutnya, sekaligus dapat memperkuat atau meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan.

Selain faktor kebijakan moneter, pembelian emas oleh bank-bank sentral di berbagai negara serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi global disebut turut menopang tren jangka panjang. Dalam situasi inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak ekonomi.

“Hal ini semakin memperkuat argumentasi bahwa minat investor terhadap logam mulia tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter jangka pendek, tetapi juga pada kebutuhan perlindungan aset dalam jangka panjang,” kata Andy.

Dengan kombinasi dukungan fundamental dan sinyal teknikal, outlook emas dalam jangka pendek masih cenderung positif. Namun pasar tetap berpotensi bergerak volatil menjelang pertemuan kebijakan The Fed. Andy menyarankan trader menjaga disiplin manajemen risiko dengan mengantisipasi dua skenario utama: peluang kenaikan menuju USD3.800 jika tren bullish berlanjut, serta kemungkinan koreksi hingga USD3.300 apabila terjadi pembalikan arah di bawah level kunci USD3.450.