Ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dinilai berpotensi menambah tekanan pada perekonomian global. Salah satu risiko yang disorot adalah kemungkinan terganggunya jalur perdagangan penting seperti Selat Hormuz, yang disebut menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika jalur ini terganggu, harga minyak dapat melonjak dan memicu kenaikan harga bahan bakar, makanan, serta biaya transportasi di berbagai negara.
Selain itu, konflik juga disebut dapat mengganggu rantai pasok global dan meningkatkan biaya pengiriman barang. Dampaknya, harga beragam produk—mulai dari pangan hingga elektronik—berpotensi naik seiring meningkatnya biaya produksi dan logistik. Para ekonom juga memperingatkan bahwa ketegangan berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan meningkatkan risiko inflasi.
Meski demikian, masyarakat diimbau tidak panik, termasuk tidak langsung membeli persediaan rumah tangga dalam jumlah besar. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah memperkuat pengelolaan keuangan keluarga agar tetap stabil. Berikut enam cara yang disarankan para ahli.
1. Tetapkan tujuan keuangan yang jelas
Langkah awal dalam rencana keuangan keluarga adalah menyepakati tujuan yang jelas. Kepala bagian pertumbuhan di Summer sekaligus profesor keuangan di City University of New York, Dennis Shirshikov, menyebut tujuan itu dapat berupa menabung untuk pendidikan anak, menyiapkan dana pensiun, atau membeli rumah.
Tujuan tersebut perlu diprioritaskan berdasarkan jangka waktu. Tujuan jangka pendek, seperti membangun dana darurat, disarankan didahulukan dibanding tujuan jangka panjang seperti tabungan pensiun, meskipun keduanya tetap perlu ditangani secara bersamaan.
2. Alokasikan sumber daya keluarga secara strategis
Dalam perencanaan keuangan keluarga, sumber daya perlu dialokasikan secara efisien untuk memenuhi kebutuhan dan prioritas seluruh anggota keluarga. Langkah ini dapat mencakup pembentukan rekening bank bersama dan rekening perwalian, penyusunan anggaran yang memperhitungkan pengeluaran bersama, serta penentuan strategi investasi yang tepat.
Peran penasihat keuangan juga dinilai penting untuk membantu keluarga mengambil keputusan terkait alokasi sumber daya agar potensi keuangan dapat dimaksimalkan.
3. Kelola biaya perawatan kesehatan
Keluarga umumnya memiliki kebutuhan kesehatan yang berbeda dibanding individu. Karena itu, pemahaman terhadap pilihan layanan kesehatan dan perlindungan yang sesuai menjadi penting. Penasihat keuangan disebut perlu membantu keluarga memahami opsi yang tersedia dan memilih rencana asuransi kesehatan yang selaras dengan kebutuhan serta anggaran.
4. Bayar utang dengan bijak
Utang dapat menjadi penghambat untuk mencapai tujuan keuangan. Karena itu, pengelolaannya perlu dilakukan secara hati-hati. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah memprioritaskan pelunasan utang berbunga tinggi terlebih dahulu, seperti saldo kartu kredit, sambil tetap melakukan pembayaran minimum untuk utang berbunga lebih rendah seperti pinjaman mahasiswa atau hipotek.
Jika memungkinkan, keluarga juga dapat mempertimbangkan penggabungan utang untuk memperoleh suku bunga yang lebih rendah sekaligus menyederhanakan pembayaran.
5. Tinjau dan sesuaikan rencana secara berkala
Situasi keuangan dan tujuan keluarga dapat berubah seiring waktu. Karena itu, para ahli menekankan pentingnya meninjau anggaran dan tujuan secara teratur, setidaknya setahun sekali. Setelah itu, keluarga dapat menyesuaikan tingkat tabungan, kebiasaan belanja, dan prioritas sesuai kebutuhan.
Peristiwa besar dalam hidup—seperti kelahiran anak, perubahan pekerjaan, atau fluktuasi pasar—juga dapat menuntut penyesuaian pada rencana keuangan.
6. Libatkan seluruh anggota keluarga
Perencanaan keuangan keluarga tidak seharusnya hanya menjadi tanggung jawab satu orang. Pasangan, dan bila perlu anak-anak, dapat dilibatkan dalam penyusunan anggaran dan penetapan tujuan. Menurut Shirshikov, langkah ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama sekaligus membantu setiap anggota keluarga memahami pentingnya disiplin finansial.
Mengajarkan anak mengelola keuangan sejak dini juga dipandang dapat menjadi bekal untuk kesuksesan finansial mereka di masa depan.
Secara keseluruhan, para ahli menilai konsistensi menjadi kunci. Menyeimbangkan berbagai tujuan keuangan bukan hal mudah, namun pendekatan yang disiplin dan bijaksana dapat membantu keluarga menjaga stabilitas dan memenuhi tujuan yang paling penting.

