Eskalasi geopolitik pada akhir Februari 2026 memicu guncangan baru bagi perekonomian global dan Amerika Serikat. Serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap instalasi militer serta nuklir Iran pada 28 Februari 2026 diikuti respons Teheran yang mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia. Dampaknya cepat terasa: harga minyak melonjak, biaya bahan bakar di AS naik tajam, pasar saham melemah beruntun, dan bank sentral menghadapi dilema kebijakan di tengah ancaman stagflasi.
Selat Hormuz menjadi pusat krisis karena perannya yang sangat menentukan bagi pasokan energi global. Di titik tersempit, lebar selat ini sekitar 33 kilometer dan menjadi satu-satunya jalur maritim ekspor energi negara-negara Teluk. Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan—sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—melintas setiap hari. Selain itu, jalur ini mengangkut sekitar seperempat perdagangan LNG global (terutama dari Qatar) serta sekitar sepertiga perdagangan internasional urea, komoditas pupuk yang paling banyak digunakan. Lebih dari 3.000 kapal melewati selat tersebut setiap bulan.
Setelah serangan 28 Februari, lalu lintas pengiriman dilaporkan turun drastis. Iran menembaki kapal tanker, mengumumkan penutupan resmi, serta melancarkan serangan drone terhadap kapal dagang. Perusahaan pelayaran menarik kapal tanker mereka, sementara perusahaan asuransi menolak memberi perlindungan untuk pelayaran di zona perang. Puluhan kapal dilaporkan terjebak, dan pada waktu tertentu hingga 150 kapal tidak dapat melintas. Situasi ini menciptakan blokade de facto, meski tidak sepenuhnya total, terhadap salah satu koridor energi terpenting di dunia.
Pasar energi bereaksi cepat. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 10% pada akhir pekan serangan pertama hingga sekitar US$80 per barel, lalu meningkat melampaui US$85 dalam beberapa hari. Sepekan setelah perang dimulai, harga sempat mendekati US$120. Pada awal Maret, Brent berada di atas US$83—sekitar 25% lebih tinggi dibanding sebelum perang. Dalam periode analisis, Brent diperdagangkan di kisaran US$100–US$112 per barel, lebih dari 40% di atas level pra-konflik sekitar US$70.
Lonjakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasokan. Iran memproduksi sekitar 3,5 juta barel per hari dan merupakan produsen terbesar keempat di OPEC. Permusuhan mengganggu kapasitas produksi Iran dan turut memicu gangguan lain di kawasan. Disebutkan pula bahwa fasilitas produksi LNG di Qatar terdampak puing dari sistem pertahanan rudal, mendorong Qatar Energy menyatakan force majeure atas seluruh ekspor. Harga gas di Eropa dilaporkan melonjak lebih dari 40%. Serangkaian serangan drone terhadap fasilitas dan instalasi Iran di Arab Saudi juga tercatat, meningkatkan kekhawatiran bahwa infrastruktur energi di seluruh Teluk dapat menjadi sasaran.
Bagi masyarakat AS, dampak paling nyata terlihat di pompa bensin. Pada malam 2–3 Maret 2026, harga rata-rata nasional bensin tanpa timbal naik 11 sen per galon menjadi US$3,11—kenaikan harian terbesar sejak 1 Maret 2023. Pada 6 Maret, harga rata-rata bensin biasa mencapai US$3,32, naik 11% dalam sepekan dan menjadi level tertinggi sejak September 2024. Harga solar naik lebih tajam menjadi US$4,33 per galon, 15% di atas level pekan sebelumnya dan tertinggi sejak November 2023.
Pada pertengahan Maret, harga rata-rata bensin dilaporkan mencapai US$3,72 per galon, hampir 80 sen lebih tinggi dibanding sebulan sebelumnya. Tom Kloza dari Gulf Oil memperkirakan harga di rentang US$3,25–US$3,50 mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan, dengan kecenderungan lebih tinggi di wilayah barat. Oxford Economics memperingatkan kenaikan harga bensin berpotensi menghapus dampak pengembalian pajak yang diharapkan mendorong konsumsi dan memperkirakan pertumbuhan konsumsi swasta tahunan paling lambat sejak 2013 pada 2026 (di luar periode penurunan terkait pandemi).
Dengan konsumsi sekitar 370 juta galon bensin per hari, kenaikan harga energi cepat menekan daya beli dan biaya operasional lintas sektor. Biaya transportasi meningkat, harga pangan berpotensi ikut terdorong, dan harga pupuk menjadi perhatian karena sepertiga perdagangan urea dunia melewati Selat Hormuz. Kenaikan harga bensin juga disebut sangat terasa di sejumlah negara bagian Midwest dan Selatan; misalnya, harga rata-rata di Georgia dilaporkan naik 40,1 sen per galon dalam satu minggu.
Pasar keuangan AS ikut terpukul. Indeks S&P 500 turun 1,7% pada pekan 24–27 Maret 2026, menjadi pekan terburuknya sejak awal perang sekaligus mencatat lima pekan berturut-turut melemah—rentetan terpanjang dalam hampir empat tahun. Dow Jones Industrial Average kehilangan 793 poin pada pekan tersebut dan turun lebih dari 10% dari rekor tertingginya bulan sebelumnya. Nasdaq Composite turun 2,1% dan masuk wilayah koreksi. Sejak awal perang, ketiga indeks utama AS dilaporkan telah kehilangan lebih dari 5%.
S&P 500 juga membentuk pola teknikal “death cross”, ketika rata-rata pergerakan 50 hari turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, yang sering dipandang sebagai sinyal risiko pelemahan berlanjut. Indeks turun ke 6.368 poin, level terendah sejak Agustus tahun sebelumnya, atau hampir 9% di bawah puncak Januari.
Sejumlah indikator ekonomi riil menunjukkan tekanan. Indeks PMI Jasa Global S&P turun ke 51,1 pada Maret dari 51,7 pada Februari, dengan laporan kenaikan biaya, penurunan pesanan, dan melemahnya ekspektasi perekrutan. Di pasar tenaga kerja, ekonomi AS dilaporkan kehilangan 92.000 pekerjaan bersih pada Februari, jauh di bawah perkiraan peningkatan lebih dari 50.000. Pemulihan moderat sekitar 60.000 pekerjaan baru diperkirakan terjadi pada Maret, disertai kenaikan tingkat pengangguran.
Federal Reserve menghadapi dilema kebijakan yang kian kompleks. Kenaikan harga energi mendorong inflasi, sementara aktivitas ekonomi melambat—kombinasi yang mengarah pada risiko stagflasi. Pada pertemuan 18 Maret 2026, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan masih terlalu dini menilai dampak penuh konflik, namun mengakui kenaikan harga minyak dan gas akan mendorong inflasi lebih tinggi dalam jangka pendek. The Fed menaikkan proyeksi inflasi akhir tahun menjadi 2,7% dari 2,4% pada proyeksi Desember. Anggota The Fed Stephen Miran disebut memberikan suara menentang untuk pemotongan suku bunga segera sebesar 25 basis poin.
Di pasar, ekspektasi pelonggaran moneter juga berubah. Investor kini mengantisipasi hanya satu kemungkinan penurunan suku bunga sepanjang 2026—mungkin pada September—dibanding perkiraan sebelumnya dua hingga tiga kali. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun meningkat sejak awal perang, mencerminkan naiknya ekspektasi inflasi dan kesadaran risiko di ujung panjang kurva imbal hasil.
Sejumlah lembaga memperbarui penilaian risiko resesi. Goldman Sachs menaikkan probabilitas resesi 12 bulan ke depan menjadi 25% setelah data pekerjaan Februari yang lemah dan harga minyak tinggi, lalu menjadi 30% menyusul eskalasi lebih lanjut. Bank tersebut menurunkan proyeksi pertumbuhan PDB AS kuartal terakhir 2026 sebesar 0,3 poin persentase menjadi 2,2%. Dalam skenario terburuk, yakni penutupan total Selat Hormuz selama satu bulan, Goldman memperkirakan Brent dapat mencapai US$110 dan inflasi utama mendekati 4,5% pada musim semi, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada kuartal keempat—di atas median proyeksi The Fed 4,4%.
OECD mempertahankan estimasi pertumbuhan global 2026 sebesar 2,9%, namun menekankan perang Iran menghapus sekitar 0,3 poin persentase dari skenario optimistis sebelumnya. Inflasi G20 kini diperkirakan 1,2 poin persentase lebih tinggi menjadi 4,0% pada 2026 akibat guncangan harga energi. OECD memperkirakan pertumbuhan PDB AS sekitar 2,0% pada 2026 dan melambat menjadi 1,2% pada 2027. Analisis ICIS juga menurunkan perkiraan pertumbuhan AS dari 2,4% menjadi 2,2%, sembari menilai ekonomi AS relatif mampu mentoleransi harga minyak US$80–US$100; namun kisaran US$100–US$150 diperkirakan memicu perlambatan signifikan, dengan Eropa dan Asia lebih terdampak.
Tekanan datang pada saat ekonomi AS sudah melemah. Departemen Perdagangan AS merevisi estimasi awal pertumbuhan PDB kuartal keempat 2025 menjadi laju tahunan 0,7%, setengah dari angka semula.
Dalam peringatan yang banyak dikutip, ekonom Harvard Kenneth Rogoff menyebut situasi ini sebagai guncangan terbesar terhadap pertumbuhan dan harga dalam lima dekade terakhir, mengingatkan pada krisis minyak 1970-an. Rogoff juga menekankan ketidakpastian sebagai sumber kerusakan ekonomi yang utama karena dapat menahan investasi dan merusak kepercayaan. Ia bahkan membandingkan dinamika awal krisis dengan periode setelah pembunuhan Archduke Franz Ferdinand pada 1914, ketika konsekuensi awal dipandang dapat dikelola namun kemudian memicu perubahan sistemik yang panjang.
Di dalam negeri AS, Presiden Donald Trump menghadapi dilema politik antara klaim keberhasilan strategis dan dampak ekonomi yang dirasakan pemilih, termasuk kenaikan harga bensin, kekhawatiran resesi, dan pelemahan pasar saham. Ilmuwan politik Michael A. Bailey dari Universitas Georgetown menilai keputusan tersebut menghasilkan banyak pihak yang dirugikan, sementara pihak yang diuntungkan lebih sedikit atau manfaatnya sulit diprediksi. Pernyataan Trump terkait kenaikan harga bensin—“jika naik, ya naik”—dinilai mencerminkan risiko politik di tengah tekanan biaya hidup.
Trump juga menjalankan pola negosiasi yang ditandai ultimatum dan penundaan tenggat. Ia disebut mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz pada 22 Maret atau menghadapi ancaman pemboman pembangkit listrik Iran. Tenggat kemudian diperpanjang menjadi lima hari dan akhirnya ditunda hingga 6 April 2026. Penundaan disertai klaim “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” yang pada beberapa kesempatan dibantah Iran. Wall Street Journal melaporkan Iran tidak meminta penundaan.
Di sisi geopolitik, konflik ini juga memunculkan pembacaan strategis terkait keamanan energi China. Sejumlah analis menilai serangan AS terhadap Iran tidak semata bertujuan pencegahan nuklir, tetapi terkait upaya jangka panjang memengaruhi pasokan energi China—meski akurasi tesis ini disebut sulit dipastikan. Namun, kerentanan China terhadap gangguan di Hormuz jelas besar: China merupakan importir minyak mentah terbesar dunia dan menyerap sekitar 80–90% ekspor minyak Iran. Data Kpler menunjukkan China membeli rata-rata 1,38 juta barel per hari minyak Iran pada 2025, sekitar 13,4% dari total impor maritimnya 10,27 juta barel per hari. Sekitar 45–50% impor minyak mentah China melewati Selat Hormuz, dan sekitar 70% kebutuhan minyaknya berasal dari impor, dengan hampir setengahnya dari Teluk Persia.
Institut Bruegel mencatat bahwa pada dua bulan pertama 2026, China meningkatkan impor minyak untuk penyimpanan strategis sebesar 16%. Rusia mengirim sekitar 300.000 barel per hari lebih banyak ke China pada Januari dan Februari dibanding sebelumnya. Disebutkan pula adanya sekitar 191 juta barel minyak mentah Iran dan Rusia dalam penyimpanan terapung dekat pelabuhan China sebagai bantalan tambahan.
Sikap diplomatik Beijing digambarkan ambigu: memperingatkan bahwa konflik mengancam keamanan energi global dan pasokan China, sekaligus menyerukan penghentian operasi militer. Disebutkan pula bahwa beberapa kapal tanker yang memiliki hubungan dengan China tetap dapat melintas melalui perjanjian khusus, ketika jalur bagi kapal lain nyaris tidak dapat dilalui—menggambarkan pengaruh China terhadap Teheran sekaligus pragmatisme Iran dalam menjaga hubungan dengan pelanggan utamanya.
Di tengah ketidakpastian, sejumlah skenario ekonomi mengemuka. Skenario optimistis mengandalkan kesepakatan cepat dan pembukaan bertahap Selat Hormuz, sehingga pasar energi stabil dalam hitungan minggu. Skenario dasar Goldman Sachs memperkirakan Brent dapat kembali ke sekitar US$71 pada akhir tahun; inflasi diperkirakan memuncak mendekati 4% pada musim semi 2026, pertumbuhan stagnan pada kuartal kedua, lalu pulih tanpa resesi. Skenario menengah memperkirakan harga energi bertahan tinggi di kisaran US$90–US$110 per barel dengan ekonomi lesu dan pengangguran meningkat. Skenario negatif—blokade total berkepanjangan, serangan besar terhadap infrastruktur energi, meluasnya konflik, atau keterlibatan aktor lain—dapat mendorong Brent mendekati US$150 sementara, memicu resesi serius dan lonjakan inflasi yang jauh lebih tinggi.
Untuk AS, taruhannya tidak hanya pada harga energi dan pertumbuhan jangka pendek. Dampak konflik juga terkait respons kebijakan moneter The Fed, kondisi pasar tenaga kerja dan konsumsi, serta persepsi global terhadap dolar dan kepemimpinan ekonomi AS. Dalam situasi yang bergerak cepat, satu hal menonjol: gangguan di Selat Hormuz, meski terjadi di jalur sempit di Timur Tengah, telah menjalar menjadi tekanan ekonomi yang luas—dengan ketidakpastian sebagai faktor yang terus memperberat risiko.