Ketidakpastian ekonomi membuat banyak pekerja menahan langkah untuk pindah kerja. Alih-alih mencari peluang baru, sebagian memilih bertahan pada posisi yang sudah dimiliki demi rasa aman. Fenomena ini dikenal sebagai job hugging, sebuah tren yang menandai pergeseran prioritas dari mengejar ambisi menuju menjaga stabilitas pekerjaan.
Sejumlah faktor disebut ikut mendorong munculnya tren tersebut, mulai dari melemahnya pasar tenaga kerja, meningkatnya persaingan, hingga kebijakan fiskal yang dinilai menambah beban perusahaan. Dalam situasi seperti ini, pekerja cenderung merasa lebih aman mempertahankan pekerjaan saat ini, meski posisi tersebut belum tentu sejalan dengan rencana karier jangka panjang.
Tren job hugging juga mencerminkan sikap menahan diri untuk tidak mengambil risiko besar, seperti berpindah pekerjaan atau mencoba jalur karier baru. Ketika biaya hidup meningkat, peluang kerja terbatas, dan inflasi menggerus daya beli, keamanan pekerjaan pun menjadi pertimbangan utama.
Di Inggris, fenomena ini disebut semakin terlihat setelah terjadi penurunan pada pasar tenaga kerja. Data dari platform HR Employment Hero menunjukkan bahwa sejak Desember 2024 tingkat ketenagakerjaan turun 0,9 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi itu dinilai tidak lazim karena menjelang Natal sektor ritel dan perhotelan biasanya justru meningkatkan perekrutan. Situasi tersebut ikut membuat pekerja semakin enggan mengambil risiko keluar dari pekerjaan yang dimiliki.
Survei Employment Hero menemukan 55 persen karyawan kini lebih mementingkan keamanan kerja dibanding mengejar ambisi karier. Angka ini lebih tinggi pada kelompok usia 18 hingga 34 tahun, dengan 65 persen responden menyatakan memilih bertahan. Lebih dari separuh kelompok usia ini juga menilai persaingan untuk mendapatkan pekerjaan baru terlalu ketat.
Managing Director Employment Hero di Inggris, Kevin Fitzgerald, mengatakan tren job hugging meningkat karena pekerja berupaya “bertahan dari badai” ekonomi. Ia juga menyinggung kebijakan kenaikan pajak bisnis dan kontribusi asuransi nasional yang disebut memicu berkurangnya kepercayaan diri di kalangan pekerja maupun pengusaha. “Kenaikan pajak ini menciptakan efek domino di seluruh sektor ekonomi,” ujarnya. Menurut Kevin, kebijakan fiskal ke depan perlu disusun lebih berhati-hati agar tidak memicu reaksi berlebihan dari dunia usaha yang dapat berdampak pada pasar tenaga kerja.
Dari sisi lain, ekonom sekaligus CEO Centre for Economics and Business Research (Cebr), Nina Skero, menilai pekerja berada dalam posisi yang serba sulit. Ia menyebut pertumbuhan upah masih berjalan, tetapi inflasi terus menggerogoti nilai pendapatan. “Para pekerja menghadapi keseimbangan yang sulit, sementara pertumbuhan gaji tetap kuat, inflasi terus menggerogoti upah riil, dan kesempatan kerja semakin menipis,” katanya.
Indikasi lain dari job hugging terlihat dari menurunnya tingkat perpindahan karyawan di sejumlah sektor. Salah satu contoh yang disebut adalah bank Lloyds yang mengumumkan fokus baru pada budaya kerja berperforma tinggi untuk meningkatkan produktivitas, seiring kecenderungan karyawan bertahan lebih lama di perusahaan. Kondisi ini dipandang sebagai sinyal menurunnya mobilitas tenaga kerja.
Meski banyak sorotan mengarah ke Inggris, tren job hugging disebut terjadi di berbagai negara. Dalam skala global, terutama setelah pandemi COVID-19, semakin banyak pekerja menilai stabilitas kerja sebagai hal penting di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Bagi perusahaan, rendahnya turnover karyawan bisa terlihat positif, tetapi juga berpotensi memunculkan stagnasi jika karyawan terlalu nyaman dan enggan berkembang. Secara keseluruhan, job hugging menggambarkan dilema antara ambisi pribadi dan kebutuhan akan rasa aman secara ekonomi, dan diperkirakan masih akan mewarnai dinamika pasar kerja selama kondisi global belum sepenuhnya pulih.

