Negara-negara dalam blok G20 dan BRICS sepakat mempererat kerja sama internasional di tengah dinamika ekonomi global yang kian kompleks. Kesepakatan ini dipandang sebagai respons kolektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memitigasi risiko ketidakseimbangan global.
Komitmen tersebut mengemuka dalam dua forum internasional, yaitu Finance Minister and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di bawah Presidensi G20 Amerika Serikat, serta Pertemuan Kedua Deputi BRICS di bawah Presidensi India 2026 yang berlangsung pada 14–15 April 2026. Delegasi Indonesia dipimpin Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa.
Di forum G20, Presidensi Amerika Serikat 2026 mengusung tema “Growth through Deregulation, Energy Abundance, and Innovation”. Agenda utamanya menekankan upaya mendorong pertumbuhan melalui penyederhanaan regulasi, penguatan pasokan energi yang aman, serta percepatan inovasi teknologi, khususnya artificial intelligence (AI).
Dalam pertemuan tersebut, Perry Warjiyo menyoroti cara pandang terhadap ketidakseimbangan global. Ia menilai penilaian tidak cukup hanya berfokus pada neraca transaksi berjalan (current account), melainkan juga perlu memberi perhatian pada sektor keuangan.
“Ketidakseimbangan global di sektor keuangan saat ini jauh lebih berisiko terhadap stabilitas perekonomian global, sehingga perhatian terhadap neraca finansial (financial account) menjadi krusial,” kata Perry.
Untuk merespons tantangan tersebut, Perry menyampaikan tiga pilar kebijakan, yakni menjaga stabilitas makroekonomi melalui penguatan sistem keuangan sebagai fondasi pertumbuhan, mendorong reformasi struktural, serta memperkuat kebijakan perdagangan terbuka guna mendukung pertumbuhan global.
Sementara itu, forum BRICS mengangkat tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability” dengan penekanan pada penguatan kerja sama South-South. Fokus ini diarahkan untuk menghadapi fragmentasi geopolitik, keterbatasan pembiayaan, serta kerentanan makrofinansial yang kerap berdampak pada negara berkembang.
Dalam pertemuan tersebut, BRICS menyepakati pembentukan Task Force on Growth and Development (TFGD). Bank sentral negara anggota BRICS juga menyatakan komitmen memperdalam kolaborasi di sejumlah bidang strategis, mulai dari integrasi sistem pembayaran lintas negara, pemanfaatan AI, penguatan keamanan siber dan financial technology, hingga pengembangan jaring pengaman keuangan internasional untuk menopang stabilitas pertumbuhan.
Selain agenda multilateral, Perry Warjiyo juga melakukan pertemuan bilateral dengan Gubernur Federal Reserve Bank, Michael S. Barr. Pertemuan itu membahas perkembangan ekonomi global terkini, tantangan ketahanan energi, serta perkembangan digitalisasi sistem pembayaran yang menjadi salah satu prioritas kebijakan moneter global.