BERITA TERKINI
Pekan Ini Jadi Ujian Kebijakan Moneter Asia di Tengah Risiko Stagflasi

Pekan Ini Jadi Ujian Kebijakan Moneter Asia di Tengah Risiko Stagflasi

Ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi membuat pekan ini menjadi ujian bagi arah kebijakan moneter di Asia. Otoritas moneter di sejumlah negara dinilai mengambil sikap yang relatif seragam: menahan suku bunga sambil mencermati arah risiko, terutama yang berkaitan dengan lonjakan harga minyak mentah dan dampaknya terhadap inflasi.

Di China, bank-bank komersial diperkirakan kembali mempertahankan Loan Prime Rate (LPR). Langkah ini mencerminkan kehati-hatian industri perbankan sembari menunggu keputusan dan sinyal lanjutan dari bank sentral People’s Bank of China (PBoC).

Di Indonesia, Bank Indonesia diproyeksikan menahan suku bunga acuan di level 4,75%. Sikap yang cenderung hawkish secara defensif ini disebut berfokus pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Lonjakan harga energi global dinilai berpotensi meningkatkan risiko inflasi impor. Pada saat yang sama, tekanan terhadap nilai tukar disebut belum sepenuhnya mereda di tengah kekhawatiran fiskal dan arus keluar modal asing.

Sikap kehati-hatian juga terlihat pada bank sentral Filipina yang kembali menempatkan risiko inflasi sebagai perhatian utama. Kenaikan harga energi dan pelemahan peso mendorong otoritas moneter untuk lebih waspada, meski pertumbuhan ekonomi domestik disebut masih rapuh.

Secara umum, kombinasi tekanan inflasi dari harga energi dan tantangan pertumbuhan menjadi faktor yang terus dipantau pelaku pasar dan pembuat kebijakan, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko stagflasi pada perekonomian global.