BERITA TERKINI
Risiko Stagflasi Kembali Mengemuka, Asia Bersiap Hadapi Tekanan Inflasi Energi

Risiko Stagflasi Kembali Mengemuka, Asia Bersiap Hadapi Tekanan Inflasi Energi

Sejumlah indikator ekonomi penting dijadwalkan rilis dalam sepekan ke depan, di tengah meningkatnya kekhawatiran dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian global. Risiko stagflasi kembali mencuat setelah ekonom Chris Williamson dari S&P Global menyoroti potensi tersebut dalam laporan PMI Global Maret, seiring tekanan inflasi yang beriringan dengan ketidakpastian pertumbuhan.

Di kawasan Asia, risiko inflasi akibat lonjakan harga energi diperkirakan akan menjadi perhatian utama. Jepang diproyeksikan mencatat kenaikan inflasi inti yang didorong oleh tekanan harga energi dan biaya tenaga kerja. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Bank of Japan akan melanjutkan proses normalisasi kebijakan moneternya.

Tekanan inflasi juga diperkirakan mulai meningkat di Selandia Baru dan Singapura, terutama sebagai dampak lanjutan dari kenaikan harga energi global. Sementara itu, Korea Selatan diperkirakan membawa kabar berbeda karena prospek pemulihan ekonomi yang ditopang ekspor semikonduktor, khususnya yang terkait dengan lonjakan permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Secara umum, Asia dinilai belum memasuki fase pelonggaran moneter. Bank sentral di kawasan cenderung memilih menunggu sambil menjaga stabilitas nilai tukar masing-masing mata uang, sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi yang berpotensi meningkat akibat kenaikan harga minyak.

Ketidakpastian masih tinggi karena konflik di Timur Tengah dinilai belum menunjukkan tanda mereda. Harga minyak mentah kembali melambung seiring naiknya tensi setelah Amerika Serikat menyita kapal Iran.

Berikut agenda data dan peristiwa ekonomi yang diperkirakan menjadi perhatian dalam sepekan:

Senin, 20 April 2026
China: Industri perbankan diperkirakan mempertahankan suku bunga pinjaman (1 tahun 3%, 5 tahun 3,5%).
Indonesia: Rapat Kerja DPR Komisi IX dengan Menteri Kesehatan RI dan Rapat Dengar Pendapat Komisi IX dengan Kepala Badan POM.

Selasa, 21 April 2026
Selandia Baru: Data inflasi diproyeksikan meningkat, secara kuartalan naik menjadi 1,1% (sebelumnya 0,6%) dan secara tahunan menjadi 3,3% (sebelumnya 3,1%).
Thailand: Data penjualan kendaraan, data ekspor dan impor tahunan, serta data neraca perdagangan.
Amerika Serikat: Data penjualan ritel diperkirakan melonjak, terutama akibat kenaikan belanja bahan bakar.

Rabu, 22 April 2026
Indonesia: Keputusan suku bunga, kemungkinan ditahan di 4,75%.
Malaysia: Data cadangan devisa.
Jepang: Neraca perdagangan serta data ekspor dan impor.

Kamis, 23 April 2026
Korea Selatan: Data PDB kuartal I, diproyeksikan naik secara kuartalan menjadi 0,7% (sebelumnya -0,2%) dan secara tahunan menjadi 2,6%.
Singapura: Data inflasi.
Amerika Serikat: Data klaim pengangguran awal.

Jumat, 24 April 2026
Thailand: Data cadangan devisa.
India: Data cadangan devisa.
Amerika Serikat: Survei Ekonomi Bloomberg Edisi April.