BERITA TERKINI
S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB dengan Outlook Stabil

S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia di Level BBB dengan Outlook Stabil

Lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Keputusan ini menegaskan posisi Indonesia tetap berada pada kategori investment grade di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dalam pertemuan di Washington D.C., menyatakan konfirmasi peringkat tersebut tidak semata angka, melainkan mencerminkan disiplin fiskal yang dijaga pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi yang dikutip pada Senin (20/4/2026).

Dalam penilaiannya, S&P menyoroti sejumlah faktor yang dinilai menjaga kredibilitas ekonomi Indonesia, antara lain konsistensi defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), efektivitas penerimaan negara, serta prospek pertumbuhan yang dinilai solid.

Menurut Purbaya, komitmen menjaga defisit di bawah 3 persen menjadi salah satu aspek yang menjadi perhatian pemeringkat. “Mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga defisit di bawah 3 persen. Komitmen ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujarnya.

Dari sisi penerimaan negara, pemerintah menyoroti pertumbuhan penerimaan pajak pada awal tahun. Disebutkan, penerimaan pajak tumbuh 30 persen pada dua bulan pertama tahun ini, serta naik 20 persen pada periode Januari–Maret. Pemerintah juga menyampaikan bahwa restrukturisasi organisasi di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai dinilai memperkuat basis penerimaan negara.

Di sektor riil, data Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat 52,03 persen, berada di zona ekspansi. Angka ini menggambarkan aktivitas usaha manufaktur yang masih bertumbuh, termasuk pada industri kertas, alas kaki, serta makanan dan minuman.

Artikel tersebut juga menautkan stabilitas peringkat kredit dengan kondisi sektor riil dan kebijakan ekonomi yang berjalan, dengan menyebut kombinasi kebijakan moneter Bank Indonesia dan disiplin fiskal pemerintah sebagai faktor yang mendukung ketahanan ekonomi.

Selain itu, Indonesia disebut masuk dalam lima besar negara tujuan investasi dunia berdasarkan Opportunity Index 2026, dengan skor 74,2. Dalam konteks ini, peringkat BBB dinilai memberikan sinyal risiko gagal bayar yang rendah, sementara PMI yang ekspansif dipandang memperkuat keyakinan terhadap potensi pasar domestik.

Meski demikian, pemerintah menyatakan tetap mencermati tantangan ke depan, termasuk rasio pembayaran bunga utang yang akan dimonitor. Pemerintah juga menekankan pentingnya reformasi fiskal berkelanjutan dan komunikasi aktif dengan investor.

Dengan peringkat investment grade yang tetap terjaga, Indonesia dinilai memperoleh sinyal kepercayaan dari pasar global terkait kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, disiplin fiskal, dan stabilitas keuangan negara.