BERITA TERKINI
Gangguan di Selat Hormuz Angkat Harga Minyak di Atas USD 100, Risiko Inflasi dan Perlambatan Ekonomi Menguat

Gangguan di Selat Hormuz Angkat Harga Minyak di Atas USD 100, Risiko Inflasi dan Perlambatan Ekonomi Menguat

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah terjadi gangguan di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah menembus level di atas USD 100 per barel dan memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi global, tekanan di pasar keuangan, serta meningkatnya risiko perlambatan ekonomi dunia.

Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, harga minyak Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dilaporkan bergerak di atas ambang psikologis USD 100 per barel. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang dapat berlangsung lebih lama.

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menjadi nadi utama perdagangan energi global. Berdasarkan berbagai estimasi lembaga energi internasional, sekitar 20 juta barel minyak per hari—atau hampir 20% pasokan minyak dunia yang diperdagangkan melalui jalur laut—melintasi perairan ini. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut, baik berupa blokade, eskalasi militer, maupun ancaman geopolitik, dinilai cepat memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Gangguan di Selat Hormuz juga memicu volatilitas harga. Harga minyak sempat menembus lebih dari USD 100 per barel, sementara beberapa transaksi fisik dilaporkan mendekati USD 150 per barel pada kondisi tertentu. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya premi risiko pengiriman, termasuk biaya logistik dan asuransi di wilayah konflik.

Sejumlah bank investasi global memperkirakan, apabila ketegangan berlanjut, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dalam jangka menengah sebelum kembali stabil seiring pemulihan pasokan secara bertahap.

Lonjakan harga minyak dinilai berpotensi menimbulkan efek domino terhadap perekonomian dunia. Energi merupakan komponen penting dalam biaya produksi dan distribusi. Ketika harga minyak naik, biaya transportasi, logistik, dan proses produksi ikut terdorong, sehingga inflasi di berbagai negara berisiko meningkat kembali, terutama di negara-negara importir energi.

Kondisi ini menempatkan bank sentral pada dilema: menjaga inflasi tetap terkendali tanpa menekan pertumbuhan ekonomi. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, risiko stagflasi—yakni inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat—disebut mulai meningkat di sejumlah negara besar.

Dampak ketidakpastian juga terlihat di pasar keuangan global. Bursa saham di berbagai kawasan cenderung tertekan karena meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap inflasi. Investor global dilaporkan mulai mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah, sementara aset berisiko seperti saham dan mata uang negara berkembang mengalami tekanan.

Volatilitas pasar tersebut terutama dirasakan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi, termasuk transportasi, manufaktur, dan industri kimia.

Selain inflasi, harga minyak yang bertahan di atas USD 100 per barel dalam periode panjang dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Biaya energi yang lebih tinggi dapat mengurangi konsumsi rumah tangga dan meningkatkan beban operasional perusahaan, yang pada akhirnya memperlambat ekspansi ekonomi di berbagai negara.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa kombinasi harga energi yang tinggi, ketidakpastian geopolitik, dan suku bunga yang masih relatif ketat dapat meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global yang lebih luas.

Gangguan di Selat Hormuz kembali menegaskan kerentanan sistem energi global terhadap dinamika geopolitik. Dengan porsi besar perdagangan minyak dunia melewati jalur ini, eskalasi konflik dinilai dapat segera tercermin pada harga minyak, laju inflasi, serta stabilitas pasar keuangan. Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas harga energi diperkirakan tetap menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pasar global.