Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak tekanan ekonomi global dan ancaman El Nino. Ia juga meminta warga memperkuat kepedulian sosial serta gotong royong di lingkungan masing-masing.
Imbauan itu disampaikan Melkiades saat menghadiri misa di Gereja Katolik Paroki Bunda Orang Miskin, Noelmina, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Senin sore, 6 April 2026.
Dalam arahannya, Melkiades menilai kondisi global yang tidak stabil, termasuk konflik internasional, mulai berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok di daerah. Karena itu, ia meminta masyarakat lebih bijak mengelola keuangan dan tidak bersikap apatis terhadap kondisi sekitar.
“Kondisi dunia tidak sedang baik-baik saja dan dampaknya sudah mulai terasa, harga-harga mulai naik. Karena itu kita harus lebih bijak membelanjakan uang dan melihat kiri kanan kita,” katanya.
Ia menekankan pentingnya solidaritas sosial agar warga yang mengalami kesulitan dapat terpantau. “Jangan sampai ada tetangga yang kesulitan makan tapi kita tidak tahu. Kita tidak boleh bersikap apatis,” ujarnya.
Gubernur juga meminta peran aktif komunitas basis, gereja, pemerintah desa, serta perangkat di tingkat desa untuk mendeteksi lebih dini warga yang benar-benar membutuhkan bantuan. Menurutnya, deteksi awal diperlukan agar intervensi pemerintah dapat tepat sasaran.
“Kalau terdeteksi lebih awal, kita bisa bantu lewat desa, kabupaten, provinsi, bahkan melalui Gereja. Tapi kita juga harus bedakan mana yang benar-benar membutuhkan dan mana yang tidak,” ucapnya.
Melkiades menuturkan, meski kapasitas fiskal pemerintah terbatas, bantuan bagi warga rentan tetap menjadi prioritas selama data penerima jelas dan teridentifikasi sejak awal.
Selain tekanan ekonomi, ia mengingatkan potensi kekeringan akibat El Nino yang diperkirakan lebih panjang dan lebih panas tahun ini. Ia merujuk pada prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa siklus El Nino kini semakin cepat akibat perubahan iklim.
“El Nino ini biasanya lima tahunan, tapi sekarang bisa lebih cepat dan dampaknya lebih panjang. Karena itu kita harus hemat air dan jaga tanaman yang sudah ada,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya petani, mengantisipasi kondisi tersebut melalui pengelolaan air yang lebih efisien serta menjaga produktivitas pertanian.
Dalam konteks penguatan ekonomi, Melkiades mendorong pemanfaatan program NTT Mart sebagai ruang pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Ia membuka peluang bagi komunitas gereja dan masyarakat untuk memproduksi berbagai barang, mulai dari makanan olahan, kerajinan, hingga produk tenun, untuk dipasarkan melalui kanal tersebut.
“Silakan produksi apa saja, nanti kita kurasi dan bisa masuk NTT Mart. Kita ingin produk masyarakat punya nilai tambah dan bisa dijual dengan baik,” katanya.
Melkiades juga menawarkan pembentukan unit NTT Mart di sekitar Paroki Bunda Orang Miskin sebagai pusat penjualan produk umat, mengingat lokasi tersebut dinilai strategis. “Kita bisa mulai dari sini, buat satu tempat kecil seperti kios untuk jual produk umat. Ini bisa jadi ruang ekonomi baru bagi masyarakat,” tuturnya.
Di sektor pertanian, ia memperkenalkan konsep Brigade Alsintan, yakni penyediaan alat dan mesin pertanian oleh pemerintah yang dapat digunakan petani tanpa harus memiliki sendiri. “Petani tidak perlu beli alat, Pemerintah siapkan, petani cukup pakai dan isi bahan bakar. Ini untuk dorong peningkatan produksi,” katanya.
Gubernur juga mendorong petani menanam komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kelapa dan vanili yang disebut memiliki harga pasar yang baik. Ia menegaskan pentingnya peningkatan produksi di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan sebagai basis utama penguatan ekonomi masyarakat di NTT.
Dalam kesempatan itu, Melkiades turut menyinggung potensi sumber daya manusia NTT di bidang keagamaan, khususnya kontribusi imam, suster, dan biarawan asal NTT di tingkat internasional. “Sebagian besar biarawan dan biarawati yang berkarya di Roma dan Vatikan itu dari NTT. Ini potensi besar yang harus terus didorong,” ucapnya.
Ia juga mengajak keluarga mendukung anak-anak yang memiliki panggilan menjadi imam atau biarawan sebagai bagian dari kontribusi daerah di tingkat global.
Sementara itu, Pastor Paroki Bunda Orang Miskin, Romo Beatus Ninu, menyampaikan apresiasi atas kehadiran gubernur yang mengikuti misa bersama umat. “Kadang-kadang Bapa Gubernur lewat saja tidak singgah. Hari ini Bapa datang dan ikut misa bersama kami, terima kasih banyak,” kata Romo Beatus.
Kunjungan tersebut menjadi momentum kehadiran pemerintah di tengah umat sekaligus menegaskan arah kebijakan yang menitikberatkan pada penguatan ketahanan sosial, ekonomi lokal, dan kesiapsiagaan menghadapi tantangan global serta perubahan iklim di NTT.