Harga properti di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir seiring berkembangnya fasilitas pendukung. Berdasarkan indeks data harga rumah bekas 99.co Indonesia dan Rumah123.com, sebanyak 11 dari 13 kota yang masuk indeks tersebut mencatatkan kenaikan harga tahunan.
Makassar kembali menjadi kota dengan kenaikan harga tahunan tertinggi. Setelah pada Februari sempat mencatat kenaikan hingga 7 persen, pada periode terbaru Makassar membukukan kenaikan tahunan sebesar 10,2 persen.
Faktor pendorong permintaan
Business Improvement General Manager 99 Group Indonesia,_tooltip Shafirra Shikka Larasati, menyampaikan ada dua faktor utama yang mendorong tingginya permintaan properti di Makassar. Pertama, posisi Makassar sebagai salah satu pusat kota dengan fasilitas komersial dan publik yang lengkap. Kedua, Makassar berada di dalam atau dekat dengan pengembangan proyek properti yang dilakukan sejumlah pengembang terkemuka.
Ia juga menyebut tiga proyek infrastruktur besar yang dinilai menjadi stimulus penjualan properti di Makassar, yaitu rencana pembangunan Tol Mamminasata, penyelesaian Makassar New Port, serta jalur kereta api Makassar–Parepare yang berpotensi meningkatkan aktivitas perekonomian.
Profil pembeli dan preferensi properti
Sepanjang 2022, pasar rumah tapak di Makassar disebut 59,9 persen terserap oleh warga lokal. Sementara itu, peminat dari luar daerah antara lain berasal dari Jakarta (8,5 persen), Medan (4,1 persen), Palu (2,8 persen), dan Surabaya (2,4 persen).
Dari sisi usia, mayoritas pembeli potensial didominasi generasi muda berusia 25—44 tahun dengan porsi 76,5 persen. Menurut Shafirra, segmen usia ini berada dalam usia produktif dan dinilai telah mencapai stabilitas keuangan sehingga memiliki daya beli lebih kuat dibanding kelompok usia 18—24 tahun.
Jenis properti yang paling diminati adalah:
Rumah tapak: 69,5 persen
Rumah toko (ruko): 14,6 persen
Tanah kosong: 6,2 persen
Untuk rumah tapak, rentang harga yang paling banyak diminati adalah di bawah Rp400 juta (41,4 persen), disusul Rp400 juta—Rp1 miliar (37,2 persen), dan Rp1 miliar—Rp3 miliar (14 persen).
Kawasan yang paling diminati
Sejumlah kecamatan di Makassar tercatat menjadi lokasi yang paling banyak diminati pencari properti, yaitu Tamalate (23,2 persen), Makassar (17,9 persen), Rappocini (14,4 persen), Biringkanaya (13,3 persen), dan Panakkukang (10,4 persen).
Shafirra menjelaskan wilayah seperti Rappocini dan Panakkukang yang berada di pusat kota menjadi lokasi pengembangan properti komersial dan fasilitas publik, termasuk hotel, pusat perbelanjaan, universitas, serta pusat pemerintahan provinsi.
Perbandingan dengan kota lain
Selain Makassar, kota lain yang juga mencatat pertumbuhan harga rumah antara lain Bogor (8,3 persen) dan Surakarta (7,9 persen). Di kawasan Jabodetabek, kenaikan tahunan juga terjadi di Tangerang (5,3 persen), Depok (5 persen), Bekasi (4,9 persen), dan Jakarta (2,6 persen).
Kenaikan harga rumah turut tercatat di Surabaya (4,4 persen) dan Semarang (4 persen). Sementara di luar Pulau Jawa, Medan dan Denpasar mengalami kenaikan masing-masing 2,8 persen dan 3 persen.

