Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2–6 Maret 2026 ditutup di zona merah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 1,62% pada akhir pekan perdagangan dan berakhir di level 7.585,687.
Posisi IHSG tersebut menjadi yang terendah sejak Agustus 2025. Dalam sepekan, IHSG tercatat ambruk 7,89%, menandai pelemahan terdalam sejak pekan kedua Mei 2022 atau lebih dari 3,5 tahun terakhir.
Pelemahan IHSG pada pekan ini dipengaruhi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri. Dari domestik, tekanan datang dari melonjaknya inflasi serta penurunan outlook rating Indonesia oleh S&P. Sementara dari eksternal, pasar dibayangi sentimen terkait perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Sejalan dengan penurunan indeks, kapitalisasi pasar bursa terkoreksi dari Rp14.787 triliun menjadi Rp13.627 triliun. Koreksi juga diikuti perlambatan pada sejumlah indikator aktivitas perdagangan.
Rata-rata nilai transaksi harian turun 16,64% menjadi Rp24,97 triliun. Adapun rata-rata volume transaksi harian melemah 17% menjadi 42,34 miliar saham.
Meski IHSG jatuh, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp2,22 triliun. Namun di tengah tekanan pasar, sejumlah saham ramai dilego asing, terutama saham-saham perbankan.
Di sisi lain, beberapa saham mencatat penurunan sangat tajam hingga melampaui 40% dalam sepekan. Pada saat yang sama, terdapat pula saham yang masih mampu membukukan lonjakan signifikan, yang didominasi sektor pertambangan dan energi.
Saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH) menjadi yang paling menonjol pada pekan ini. BEI bahkan sempat menghentikan sementara perdagangan saham IFSH karena kenaikannya dinilai terlalu tajam.

