BERITA TERKINI
IHSG Berfluktuasi, Investor Ritel Mulai Melirik Instrumen Pasif untuk Diversifikasi Portofolio

IHSG Berfluktuasi, Investor Ritel Mulai Melirik Instrumen Pasif untuk Diversifikasi Portofolio

PT BNI Sekuritas mengamati meningkatnya perhatian investor ritel Indonesia terhadap instrumen investasi pasif dalam pengelolaan portofolio. Tren ini dinilai kian relevan di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan terakhir, ketika kombinasi strategi pasif dan aktif dapat membantu penyebaran risiko sekaligus menjaga keseimbangan portofolio.

Instrumen investasi pasif merupakan produk yang dirancang untuk mengikuti kinerja indeks tertentu, seperti indeks saham atau obligasi, tanpa melakukan pemilihan aset secara aktif. Contohnya adalah Exchange-Traded Fund (ETF) dan reksa dana indeks, yang memungkinkan investor memperoleh diversifikasi dalam satu produk dengan biaya yang relatif efisien.

Mengacu pada laporan salah satu media di Indonesia, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat hingga November 2025 terdapat lebih dari 42 ribu investor ritel yang bertransaksi pada ETF, waran terstruktur, dan DIRE. Secara keseluruhan, transaksi ketiga instrumen tersebut disebut meningkat sekitar 300%.

Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menilai angka tersebut mencerminkan peningkatan kesadaran investor ritel terhadap pentingnya diversifikasi portofolio. “Penggunaan strategi investasi aktif dan pasif secara bersamaan dapat membantu investor menyebar risiko di berbagai saham atau sektor, sekaligus menjaga portofolio tetap seimbang dalam kondisi pasar yang berfluktuasi,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Senin (20/1).

Menurut Teddy, fenomena serupa juga terlihat di pasar global. Ia merujuk pada survei terbaru di India yang menunjukkan 68% investor ritel memiliki setidaknya satu produk pasif, seperti ETF atau reksa dana indeks. Ia menambahkan, data tersebut mengindikasikan instrumen pasif semakin diperhitungkan sebagai komponen portofolio modern, dan tren serupa mulai terlihat di Indonesia.

Secara umum, strategi pasif cenderung menawarkan biaya lebih rendah dengan kinerja yang mengikuti pasar. Sementara itu, strategi aktif dinilai berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, namun disertai tingkat risiko dan volatilitas yang lebih besar. Karena itu, kombinasi keduanya menjadi pendekatan yang semakin banyak digunakan investor.

BNI Sekuritas menilai instrumen pasif dapat dimanfaatkan sebagai fondasi portofolio jangka panjang bagi investor ritel, sedangkan strategi aktif digunakan untuk menangkap peluang jangka pendek atau sektor tertentu yang sedang berkembang. Meski minat terhadap instrumen pasif meningkat, Teddy menegaskan strategi aktif tetap relevan bagi investor yang ingin mengeksplorasi peluang pada saham individual atau sektor tertentu.

“Dengan memahami karakter masing-masing strategi, investor ritel dapat lebih siap menghadapi fluktuasi IHSG dan menyesuaikan portofolio sesuai tujuan investasi,” kata Teddy. BNI Sekuritas menyimpulkan instrumen pasif dapat menjadi salah satu opsi strategis yang dikombinasikan dengan strategi aktif, dengan penyesuaian pada tujuan investasi dan profil risiko masing-masing investor.