Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan hari ini. IHSG turun 248 poin atau 3,28% ke level 7.337, dari penutupan sebelumnya di 7.585.
Sepanjang sesi, IHSG dibuka di 7.374 dan sempat bergerak naik hingga level tertinggi 7.403. Namun tekanan jual mendorong indeks turun lebih dalam hingga menyentuh level terendah harian 7.156, sebelum akhirnya ditutup di 7.337.
Pelemahan di pasar saham domestik terjadi seiring tekanan yang meluas di bursa Asia. Nikkei Jepang merosot 5,20% ke 52.728 dan Kospi Korea Selatan turun 5,96% ke 5.251. Sementara itu, ASX Australia melemah 2,85% dan Straits Times Singapura turun 1,89%. Di Tiongkok, Shanghai Composite terkoreksi 0,67%, sedangkan Hang Seng Hong Kong turun 1,35%.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar terlihat pada IDXTRANS yang turun 5,22%, diikuti IDXMESBUMN yang melemah 5,57% serta IDXSMC-LIQ yang merosot 4,66%. Sektor teknologi tercatat turun 1,58%, sektor keuangan melemah 1,34%, dan indeks INFOBANK15 terkoreksi 2,01%.
Di tengah pelemahan indeks, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp749,8 miliar di pasar reguler. Aliran dana asing terbesar masuk ke saham BUMI sebesar Rp137,8 miliar, PTRO Rp134,6 miliar, dan MDKA Rp121,1 miliar.
Namun, aksi jual asing masih terlihat pada saham-saham perbankan besar. BMRI mencatat net sell Rp269,7 miliar, disusul BBRI Rp170,0 miliar dan BBCA Rp106,8 miliar. Pergerakan tersebut mengindikasikan adanya rotasi dana ke saham berbasis komoditas.
Sentimen pasar turut dipengaruhi memburuknya kondisi global. Harga minyak mentah yang melonjak lebih dari 25% meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi energi dan mendorong investor menilai ulang prospek pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini juga mengangkat dolar AS di pasar global dan menambah tekanan pada aset berisiko.
Ketidakpastian meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memasuki hari kesepuluh tanpa tanda mereda menambah kehati-hatian investor. Risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur distribusi energi utama dunia, turut memperbesar kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Dari Amerika Serikat, data ekonomi memberikan sinyal campuran. Laporan Nonfarm Payrolls (NFP) terbaru menunjukkan jumlah lapangan kerja berkurang 92 ribu pada Februari, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dan tingkat partisipasi angkatan kerja turun ke 62%.
Di sisi lain, pertumbuhan upah masih relatif kuat. Rata-rata penghasilan per jam meningkat 0,4% secara bulanan dan 3,8% secara tahunan, sehingga menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.

