BERITA TERKINI
IHSG Sempat Anjlok hingga Trading Halt, Lalu Menguat di Mei 2025: Apa Pendorong dan Risiko Berikutnya?

IHSG Sempat Anjlok hingga Trading Halt, Lalu Menguat di Mei 2025: Apa Pendorong dan Risiko Berikutnya?

Pergerakan pasar saham Indonesia sepanjang 2025 berlangsung bak rollercoaster. Dalam lima bulan pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa kali terkoreksi tajam hingga memicu Bursa Efek Indonesia (BEI) dua kali melakukan pembekuan perdagangan saham (trading halt). Namun memasuki Mei 2025, IHSG kembali menguat, didorong meredanya sebagian sentimen global serta masuknya aliran dana asing.

IHSG sempat jatuh tajam dan memicu trading halt

Tekanan kuat terjadi pada 18 Maret 2025 ketika IHSG anjlok lebih dari 6 persen ke level 6.076 pada perdagangan sesi pertama. BEI kemudian melakukan trading halt, yang disebut sebagai yang pertama sejak pandemi Covid-19. Saat itu, pergerakan pasar diduga dipengaruhi sentimen negatif terkait dinamika ekonomi dan politik domestik, mulai dari isu melemahnya kinerja keuangan negara hingga revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang dikhawatirkan menghidupkan kembali Dwifungsi TNI.

Tekanan berlanjut pada 24 Maret 2025. IHSG kembali turun ke 5.970 pada sesi pertama, yang disebut sebagai titik nadir sejak pandemi Covid-19. Sejumlah analis menilai penurunan tersebut terkait persepsi negatif investor terhadap kondisi keuangan negara. Pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi, seiring kekhawatiran meningkatnya risiko fiskal sehingga sebagian pelaku pasar beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Pada 8 April 2024, seusai libur panjang Lebaran, IHSG kembali jatuh hingga 9 persen ke level 5.912. Penurunan ini dikaitkan dengan kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang dikhawatirkan memicu perang dagang besar. BEI kembali menerapkan trading halt untuk mencegah penurunan lebih tajam.

Mei 2025: IHSG menguat, asing kembali mencatat beli bersih

Memasuki Mei 2025, IHSG melanjutkan tren kenaikan (bullish) sejak pertengahan April. Penguatan ini terjadi di tengah tantangan ekonomi yang masih ada, seperti potensi penurunan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dinilai tidak signifikan serta perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pada Senin (5/5/2025), IHSG dibuka di level 6.844 dan naik ke 6.851 pada penutupan sesi pertama. Dalam tiga hari berturut-turut pada awal Mei, investor asing tercatat melakukan pembelian bersih di pasar saham dengan total hampir Rp 300 miliar. Pada periode yang sama, rupiah menguat dan ditutup di Rp 16.400 per dollar AS, yang disebut sebagai posisi terkuat sejak pertengahan Maret 2025.

Pengamat pasar modal Panin Sekuritas, Reydi Octa, menilai salah satu pendorong IHSG berasal dari aliran dana asing yang mulai masuk sejak akhir April. Selain itu, sentimen perang tarif juga mulai berkurang sehingga pergerakan IHSG dinilai lebih stabil.

Ketidakpastian belum sepenuhnya hilang

Meski IHSG menguat, sejumlah faktor domestik dan global dinilai masih berpotensi mengubah sentimen pasar. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2025 yang melambat menjadi 4,87 persen. Reydi Octa menyebut perlambatan itu bisa direspons negatif oleh pasar dan mengingatkan investor untuk tetap mengantisipasi dengan menjaga ketersediaan kas.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully A Wisnubroto, juga menyoroti penguatan di pasar obligasi yang dinilai terjadi terlalu cepat. Menurutnya, penguatan IHSG, rupiah, serta turunnya imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik yang masih tinggi.

Dari sisi global, negosiasi dagang AS dan China diperkirakan masih akan berjalan cukup lama dan belum ada keputusan jelas untuk deeskalasi, meski tensi mulai mereda dan pembicaraan mulai berlangsung. Sementara itu, sejumlah data ekonomi domestik juga dinilai menunjukkan kondisi yang kurang baik.

Mengapa pasar modal sangat volatil tahun ini?

Head of IPOT Fund Dody Mardiansyah menilai lanskap pasar global kini lebih dinamis, sehingga adagium “sell in May and go away” tidak lagi relevan untuk diterapkan secara kaku. Volatilitas tinggi, menurutnya, dipicu kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik yang kompleks, mulai dari ketidakpastian pertumbuhan global dan ancaman resesi, kebijakan moneter bank sentral yang dinamis, hingga tensi geopolitik.

Sejumlah agenda yang menjadi perhatian investor meliputi arah suku bunga The Fed, kondisi ekonomi China, serta indikator makro domestik, termasuk pertumbuhan ekonomi pada triwulan berikutnya dan arah suku bunga Bank Indonesia yang sejauh ini bertahan di 5,75 persen.

Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia menilai salah satu penyebab IHSG menguat meski indikator makro melemah adalah karena pelemahan sejak awal tahun membuat valuasi banyak saham menjadi relatif murah. Pelaku pasar juga dinilai cenderung sudah mengantisipasi arah perkembangan ekonomi domestik. Namun, ia mengingatkan pertumbuhan ekonomi yang melemah lebih dalam dapat menjadi katalis negatif bagi pasar saham ke depan.

Langkah yang disarankan bagi investor

Dalam situasi yang bergejolak, investor diingatkan untuk mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dan disiplin, meski pasar sedang menguat. Dody Mardiansyah menekankan pentingnya strategi yang tidak dogmatis, yakni tidak hanya mengandalkan tren atau adagium pasar tanpa mempertimbangkan konteks terkini.

  • Manajemen risiko yang disiplin untuk menghadapi potensi pelemahan setelah Mei 2025.

  • Diversifikasi portofolio guna mengurangi risiko.

  • Alokasi aset sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.

Ia menilai keputusan investasi idealnya berfokus pada tujuan keuangan pribadi, profil risiko, serta pemahaman mendalam terhadap pasar dan instrumen yang dipilih. Mengandalkan adagium pasar semata tanpa mempertimbangkan kondisi terbaru dinilai berpotensi merugikan.

Di tengah ketidakpastian, memarkir dana di Rekening Dana Nasabah (RDN) atau deposito bisa terlihat aman. Namun, dana yang mengendap di RDN umumnya hanya menghasilkan bunga relatif kecil sehingga potensi pertumbuhannya terbatas.