BERITA TERKINI
IHSG Turun 3,27%, BEI Pastikan Sistem Perdagangan Siap Hadapi Dinamika Pasar

IHSG Turun 3,27%, BEI Pastikan Sistem Perdagangan Siap Hadapi Dinamika Pasar

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan sistem perdagangan dan infrastruktur pasar modal domestik dalam kondisi siap untuk menghadapi dinamika pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan bursa telah menyiapkan perangkat pengamanan pasar, mulai dari infrastruktur perdagangan hingga regulasi, untuk merespons perubahan kondisi pasar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada,” ujar Jeffrey di BEI, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Merespons tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari itu, Jeffrey menilai pergerakan pasar saham lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal yang juga menekan pasar global. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai bursa saham dunia.

“Tidak hanya di pasar kita, tetapi juga di global market,” katanya.

Jeffrey menambahkan, kondisi pasar saat ini dinilai masih lebih terkendali dibandingkan gejolak yang terjadi pada April tahun lalu. Kala itu, pasar sempat tertekan setelah kebijakan tak terduga dari Amerika Serikat memicu kepanikan investor global.

“Pada saat itu yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar dibandingkan hari ini. Karena itu, sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap menghadapi dinamika pasar yang ada,” ujarnya.

IHSG melemah hingga akhir perdagangan Senin (9/3/2026). Mengacu pada data RTI, IHSG turun 248,31 poin atau 3,27% ke level 7.337,36, setelah bergerak pada rentang 7.156,68 hingga 7.403,73 sepanjang sesi perdagangan.

Pergerakan saham pada penutupan perdagangan didominasi tren negatif. Tercatat 708 saham terkoreksi, 68 saham menguat, dan 41 saham stagnan.

Seluruh sektor berada di zona merah. Sektor transportasi mencatat penurunan terdalam sebesar 5,22%, diikuti sektor bahan baku 4,59%, properti 4,57%, barang konsumen nonprimer 4,54%, serta energi 4,33%.