BERITA TERKINI
Indeks Menabung Konsumen Mei 2025 Turun ke 79, Ekonom Unair Soroti Tekanan Ekonomi hingga Tren Paylater

Indeks Menabung Konsumen Mei 2025 Turun ke 79, Ekonom Unair Soroti Tekanan Ekonomi hingga Tren Paylater

Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Mei 2025 tercatat sebesar 79,0. Angka ini turun 4,4 poin dibanding bulan sebelumnya, yang mengindikasikan semakin banyak masyarakat yang tidak menabung atau menabung dengan jumlah lebih kecil dari rencana semula.

Peneliti Pusat Kajian Sosio-Ekonomi Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB Unair), Dr. Rumayya Batubara, menilai penurunan IMK dipicu kombinasi sejumlah faktor, mulai dari kondisi ekonomi, rendahnya literasi keuangan, hingga budaya konsumtif yang masih kuat.

Kondisi ekonomi dan ketidakpastian pendapatan

Rumayya mengatakan kondisi ekonomi yang dinilai sedang tidak baik menjadi salah satu pemicu. Menurutnya, banyak orang mengalami pengurangan pendapatan, baik dari usaha maupun pekerjaan. Ia juga menyoroti besarnya porsi pekerja di sektor informal yang tidak memiliki kepastian gaji bulanan seperti pekerja formal.

Literasi keuangan dan perencanaan yang belum matang

Faktor lain yang disorot adalah rendahnya literasi keuangan. Rumayya menilai banyak keluarga belum memiliki perencanaan finansial yang jelas, padahal sejumlah pengeluaran besar seperti biaya sekolah atau kebutuhan Lebaran dapat diperkirakan sejak awal.

Ia mencontohkan pemanfaatan THR yang kerap langsung habis dibelanjakan karena tidak disertai rencana pengelolaan keuangan.

Paradoks kebutuhan makro dan kesehatan keuangan rumah tangga

Rumayya juga menjelaskan adanya paradoks antara kebijakan makroekonomi dan kebutuhan finansial individu. Menurutnya, dorongan agar masyarakat segera membelanjakan uang demi menjaga perputaran ekonomi nasional dapat bertentangan dengan prinsip keuangan sehat di tingkat rumah tangga.

Ia menyebut, apa yang dianggap baik untuk perekonomian secara makro belum tentu baik bagi rumah tangga. Jika masyarakat menabung, ekonomi bisa terkontraksi, tetapi jika tidak menabung, individu berisiko menghadapi kesulitan di masa depan.

Perubahan budaya dan tantangan gaya hidup

Dari sisi budaya, Rumayya menilai masyarakat sebenarnya memiliki nilai yang mendukung kebiasaan menabung. Ia menyinggung praktik lumbung pangan pada masa lalu sebagai bentuk antisipasi masa paceklik. Namun, seiring peralihan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, nilai kebijaksanaan dalam menabung tersebut dinilai memudar.

Perubahan gaya hidup, termasuk kemudahan akses pembiayaan seperti cicilan paylater, juga disebut menjadi tantangan baru. Menurut Rumayya, sebagian orang memilih berutang ketimbang menabung terlebih dahulu untuk membeli barang. Ia menilai penggunaan paylater pada dasarnya berarti mengonsumsi pendapatan masa depan.

Risiko cicilan dan batas aman utang

Rumayya menekankan pentingnya pengelolaan cicilan yang sehat. Ia menyebut utang sah-sah saja secara ekonomi, selama cicilan tidak melebihi 30 persen dari pendapatan bulanan. Namun, ia mengingatkan kondisi menjadi berbahaya jika porsi cicilan mencapai 50 hingga 90 persen dari pendapatan.

Penurunan terbesar pada kelompok berpenghasilan rendah

Survei IMK menunjukkan penurunan indeks paling besar terjadi pada kelompok rumah tangga dengan penghasilan di bawah Rp1,5 juta per bulan. IMK kelompok ini turun lebih dari 12 poin. Kondisi tersebut sejalan dengan turunnya Indeks Kepercayaan Konsumen yang berada di angka 99,7, atau di bawah ambang optimis.

Meski demikian, Rumayya mengingatkan bahwa penurunan IMK tidak serta-merta berarti kelompok tersebut tidak memiliki tabungan sama sekali. Ia menyebut, sebagian konsumen bisa jadi tidak menabung pada bulan tertentu karena sedang menggunakan tabungan yang sudah ada.

Ia menambahkan, banyak konsumen merasa kondisi ekonomi memburuk akibat kenaikan harga sembako, terbatasnya lapangan kerja, serta gangguan cuaca seperti banjir dan gagal panen.

Imbauan menyiapkan dana darurat

Rumayya menekankan pentingnya memiliki dana darurat minimal untuk kebutuhan tiga bulan ke depan. Menurutnya, dana darurat memberi ruang bagi keluarga untuk bertahan ketika menghadapi risiko seperti pemutusan hubungan kerja atau sakit, sebelum memikirkan investasi atau konsumsi tambahan.

Ia juga mengimbau masyarakat tetap menabung dalam bentuk apa pun. Menurutnya, menabung tidak harus selalu di bank, tetapi bisa juga dalam bentuk emas atau aset lain, selama keluarga memiliki jaminan untuk menghadapi kondisi tak terduga.