Dunia berada di persimpangan sejarah ketika krisis iklim mendorong negara-negara mengubah arah pembangunan menuju ekonomi rendah karbon. Sejumlah negara besar mulai mengalihkan investasi dari energi fosil ke energi terbarukan, ekonomi sirkular, dan industri hijau. Pasar internasional pun semakin memprioritaskan produk beremisi rendah, seiring meningkatnya risiko lingkungan dan bencana alam. Kerugian ekonomi global akibat bencana alam yang dikaitkan dengan kerusakan lingkungan tercatat sebesar 1.717 juta dolar AS pada 2020.
Di tengah pergeseran tersebut, Indonesia menjadi perhatian karena dinilai memiliki potensi besar sebagai salah satu pusat energi terbarukan serta produsen mineral kritis dunia. Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut Indonesia memegang lebih dari 55% pasokan nikel global, menempatkannya sebagai pemain penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dan transisi energi dunia.
Pemerintah menyatakan langkah Indonesia sejalan dengan arus global melalui penguatan diplomasi lingkungan, percepatan mobilisasi energi terbarukan, serta penerapan kebijakan ekonomi hijau sebagai bagian dari pembangunan nasional. Ekonomi hijau ditetapkan sebagai strategi inti dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, termasuk target net-zero dan transformasi menuju energi bersih.
Dalam berbagai kajian, ekonomi hijau kerap digambarkan sebagai strategi operasional yang memungkinkan pemulihan ekonomi sekaligus menjaga pertumbuhan berkelanjutan di masa depan. Dalam konteks Indonesia, transisi ini dipandang bukan semata pilihan etis, melainkan kebutuhan struktural yang akan menentukan ketahanan ekonomi di masa mendatang.
Potensi energi terbarukan Indonesia disebut terbentang luas, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hingga aliran sungai. Uni Eropa menilai Indonesia berpeluang menjadi salah satu pusat masa depan energi bersih dunia, termasuk sebagai produsen energi baru terbarukan dan pemasok bahan baku teknologi hijau, seperti baja dan aluminium rendah emisi.
Peluang ekonomi hijau juga mencakup sektor pertanian. Melalui modernisasi dan pendekatan berkelanjutan, pertanian diproyeksikan dapat berkembang menjadi pusat bioekonomi baru, termasuk produksi energi hayati dan industri berbasis biomassa. Bappenas memperkirakan penerapan ekonomi hijau berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 6,3% per tahun sampai 2050, yang menunjukkan keberlanjutan dipandang dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan.
Dalam transisi ini, peran otoritas moneter ikut disorot. Bank Indonesia (BI) disebut memperluas perannya dengan memperkuat kebijakan ekonomi hijau melalui insentif makroprudensial bagi bank yang menyalurkan pembiayaan ke sektor berkelanjutan. BI juga melonggarkan kebijakan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk memperkuat pembiayaan hijau, dengan tujuan mempermudah perbankan menyediakan kredit hijau yang lebih terjangkau dan inklusif.
Kolaborasi lintas pihak menjadi salah satu pendekatan yang ditempuh. Melalui Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI) yang melibatkan 15 bank, WWF, dan PT Sarana Multi Infrastruktur, BI memfasilitasi pembiayaan hijau senilai Rp96 miliar bagi UMKM hijau pada Mei–Juni 2025. Selain itu, program percontohan bersama IKBI mengidentifikasi potensi pembiayaan hijau hingga Rp29,3 triliun, termasuk melalui obligasi hijau dan rantai pasok industri.
Untuk memperkuat tata kelola keberlanjutan dalam sistem keuangan, BI mengembangkan Kalkulator Hijau berbasis standar ISO 14064-1:2018. Alat ini digunakan untuk menghitung dan melaporkan emisi karbon secara terukur, serta dimanfaatkan perbankan untuk meningkatkan transparansi dan kualitas data terkait keuangan hijau.
Di sisi lain, perubahan menuju ekonomi hijau juga dikaitkan dengan pergeseran perilaku konsumen, termasuk peran generasi muda. Gen Z disebut sebagai kelompok yang cenderung memilih produk ramah lingkungan dan memengaruhi arah industri melalui pasar digital. Dalam ekosistem kewirausahaan, Kementerian Perindustrian mencatat peran wirausaha muda dalam mendorong ekonomi sirkular melalui program seperti Startup4Industry yang menghubungkan mahasiswa, startup teknologi, dan industri untuk menciptakan inovasi di bidang energi terbarukan dan daur ulang.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan ketidakpastian global, penguatan fondasi ekonomi dan keuangan hijau dipandang menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Narasi yang mengemuka menekankan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tanpa batas berisiko memperbesar kerusakan lingkungan, sementara ekonomi hijau dinilai membuka ruang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan melalui energi terbarukan, inovasi, dan perubahan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.