Investasi yang dulu kerap dipandang sebagai aktivitas kalangan orang kaya atau pengusaha, kini semakin akrab di kehidupan anak muda Indonesia. Milenial dan generasi Z mulai berani mengelola keuangan sejak dini, tidak hanya mengandalkan tabungan, tetapi juga mengenal berbagai instrumen investasi yang sebelumnya dianggap rumit.
Perubahan ini banyak didorong oleh kemajuan teknologi dan hadirnya platform digital. Melalui aplikasi di ponsel, masyarakat dapat mulai berinvestasi dengan nominal kecil, bahkan dari Rp10 ribu, sehingga akses terhadap produk keuangan menjadi lebih terbuka.
Ada beberapa faktor yang membuat tren investasi di kalangan anak muda menguat. Pertama, kemudahan teknologi digital yang memungkinkan pembelian saham, reksa dana, emas, hingga P2P lending dilakukan lewat smartphone. Kedua, edukasi melalui media sosial yang membuat topik keuangan lebih mudah dipahami karena disampaikan dengan gaya ringan di berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
Selain itu, meningkatnya kesadaran akan masa depan juga mendorong minat investasi. Isu seperti tekanan ekonomi, inflasi, dan ketidakpastian kerja membuat sebagian anak muda merasa perlu menyiapkan kondisi finansial lebih awal. Narasi mengenai “financial freedom” dan konsep financial independence, retire early (FIRE) turut menjadi pemicu ketertarikan untuk belajar investasi.
Sejumlah instrumen investasi disebut populer di kalangan milenial dan gen Z. Reksa dana pasar uang dan saham menjadi pilihan karena dapat dimulai dengan modal kecil, risikonya dinilai lebih terukur, dan bisa dipantau lewat aplikasi. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga April 2025, total investor pasar modal mencapai 16,2 juta, dengan 55% berasal dari kalangan anak muda (milenial dan gen Z). Sementara itu, data OJK tahun 2024 mencatat gen Z menyumbang 55,07% investor ritel pasar modal.
Emas digital juga menjadi pilihan karena memungkinkan investasi emas dimulai dari nominal kecil. Survei Solopos pada rentang usia 15–24 tahun menunjukkan investasi emas dan tabungan menjadi pilihan teratas dengan porsi sama, masing-masing 31%. Dalam survei yang sama, produk investasi yang paling diminati untuk 2025 adalah perhiasan (67%) dan emas/logam mulia (66%).
Di luar itu, sebagian anak muda juga tertarik pada saham dan aktivitas trading karena potensi imbal hasil jangka panjang, meski risikonya lebih tinggi. Aset digital seperti kripto dan NFT turut dilirik walaupun fluktuasinya besar. Instrumen P2P lending juga menjadi alternatif karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi, dengan risiko yang juga perlu diperhitungkan.
Meski tren ini dinilai positif, terdapat sejumlah tantangan. Salah satunya adalah pemahaman risiko yang belum merata, terutama ketika keputusan investasi dipicu fear of missing out (FOMO) alih-alih analisis yang matang. Risiko lain datang dari maraknya investasi bodong dengan skema cepat kaya yang masih beredar dan dapat menjerat siapa saja, termasuk milenial dan gen Z.
Tantangan berikutnya adalah manajemen keuangan harian. Semangat berinvestasi bisa menjadi masalah jika tidak diimbangi dengan kesiapan dana darurat, sehingga seseorang mudah panik saat membutuhkan uang cepat. Di sisi lain, tingkat literasi keuangan praktis juga masih menjadi pekerjaan rumah. Survei SNLIK 2025 mencatat indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun sebesar 51,68%, lebih rendah dibanding rata-rata nasional 66,46%.
Di tengah perkembangan ini, investasi mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup baru anak muda. Teknologi, meningkatnya literasi, dan kesadaran akan perencanaan masa depan membuat milenial dan gen Z semakin aktif mencoba berbagai instrumen. Namun, investasi tetap menuntut pemahaman dan kehati-hatian, karena tujuan utamanya bukan sekadar mengejar cepat kaya, melainkan membangun keamanan finansial jangka panjang.

