Hubungan dagang Indonesia dan Yaman diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Surabaya, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Surabaya, dan Kadin Wadi Hadramaut dan Sahara (Yaman). MoU tersebut ditandatangani pada Sabtu (25/10) di Kantor Kadin Surabaya sebagai langkah untuk mempererat jejaring perdagangan, investasi, serta pertukaran informasi bisnis di antara pelaku usaha kedua pihak.
Penandatanganan dilakukan oleh Ketua Kadin Surabaya H. Muhammad Ali Affandi LNM, Ketua HIPMI Surabaya Benny Setiawan Santosa, serta Ketua Kadin Wadi Hadramaut dan Sahara Arif Al-Zubaidi. Kegiatan ini turut disaksikan Mehiman Ahmad Yasin selaku Pejabat Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Yaman dan Oman, bersama Dewan Kadin Wadi Hadramaut dan Sahara serta staf KBRI Yaman dan Oman.
Dari pihak tuan rumah, hadir pula Raka Bagus selaku Wakil Ketua Kadin Surabaya, Anis Assegaf dan Adam Syarief Thamrin sebagai Wakil Ketua dan Sekretaris HIPMI Surabaya, serta M. Ali Irsyad selaku Kepala Bidang Kerjasama HIPMI Kota Surabaya.
Ruang lingkup kerja sama mencakup upaya memperkuat interaksi antarpelaku usaha melalui kunjungan dagang timbal balik, forum bisnis virtual, dan pertukaran data sektor perdagangan. Para pihak juga berkomitmen membuka komunikasi yang lebih intensif untuk mengidentifikasi serta memperluas peluang ekspor-impor pada sektor-sektor potensial.
Adapun sektor yang menjadi perhatian antara lain produk pertanian, rempah-rempah yang memiliki keterkaitan historis dengan Hadramaut, serta pengembangan sektor logistik dan teknologi layanan.
Kerja sama ini juga menegaskan kembali ikatan historis Yaman, khususnya Hadramaut, dengan Indonesia. Dalam catatan perdagangan maritim di Nusantara, pedagang dari Hadramaut disebut memiliki peran dalam aktivitas dagang sekaligus membawa pengaruh budaya dan ekonomi. Ikatan kultural tersebut kini menjadi salah satu landasan pembaruan kemitraan ekonomi di era modern.
Dalam konteks ekonomi saat ini, data UN Comtrade 2024 menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Yaman sekitar 135 juta dolar AS, sementara impor dari Yaman sekitar 7,1 juta dolar AS. Surplus perdagangan tersebut dinilai mencerminkan potensi pasar yang masih dapat dikembangkan, terutama untuk pemenuhan kebutuhan pokok dan bahan industri.
Di sisi lain, kondisi Yaman yang menghadapi tantangan rekonstruksi pascakonflik disebut membuka peluang investasi jangka panjang. Dengan pengalaman pembangunan infrastruktur dan dukungan posisi Surabaya sebagai hub logistik, kemitraan bisnis diharapkan dapat memperkuat rantai pasok serta mendukung pemulihan ekonomi Yaman.
Muhammad Ali Affandi LNM menyebut MoU ini sebagai momentum strategis bagi pengusaha daerah untuk memperluas jaringan internasional. Ia menilai Surabaya memiliki posisi penting sebagai salah satu hub logistik utama di Indonesia Timur dan kerja sama ini diarahkan untuk membuka jalur perdagangan baru yang saling menguntungkan.
Arif Al-Zubaidi menyatakan Surabaya dipandang sebagai mitra potensial karena memiliki infrastruktur pelabuhan yang kuat dan komunitas bisnis yang terbuka terhadap kemitraan global. Sementara itu, Benny Setiawan Santosa menekankan peran pengusaha muda dalam diplomasi ekonomi, termasuk membangun jejaring lintas negara melalui kolaborasi antarpelaku usaha muda.
Sebagai tindak lanjut, MoU akan diikuti penyusunan agenda kerja bersama untuk dua tahun ke depan. Rencana tersebut mencakup misi dagang, forum investasi, dan program digital matchmaking bagi pelaku usaha. Kemitraan Hadramaut–Surabaya diharapkan menjadi model hubungan dagang subnasional yang produktif dan berkelanjutan serta berkontribusi pada penguatan hubungan ekonomi Indonesia–Yaman.

