Ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali menjadi perhatian global karena dikhawatirkan berdampak pada perekonomian Indonesia. Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik vital distribusi energi dunia, terutama minyak mentah dari Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi kawasan ini setiap hari. Karena itu, stabilitas di Selat Hormuz sangat memengaruhi harga energi global, termasuk bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Pemerhati ekonomi politik internasional dan energi, Shaivannur M. Yusuf, menilai gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia. Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dinilai akan merasakan dampak langsung melalui meningkatnya biaya impor energi.
“Kenaikan harga minyak mentah otomatis akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sektor subsidi energi,” ujar Shaivannur, Senin (30/3/2026).
Selain beban fiskal, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga dinilai berpotensi terjadi. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor, yang dapat memperlemah rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, terutama jika ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi kondisi global.
Dampak lanjutan disebut dapat menjalar ke sektor industri dan transportasi. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.
“Efek domino dari kenaikan harga energi bisa menjalar ke inflasi. Jika tidak diantisipasi, daya beli masyarakat dapat tergerus dan melemah,” tambahnya.
Risiko juga mengintai sektor pelayaran dan logistik. Jika konflik di Selat Hormuz meningkat, biaya asuransi kapal dan pengiriman barang melalui jalur tersebut dapat melonjak. Kondisi ini dapat berimbas pada biaya impor barang, termasuk bahan baku industri yang berasal dari Timur Tengah.
Meski demikian, pemerintah dinilai memiliki sejumlah instrumen untuk meredam dampak. Langkah seperti diversifikasi sumber energi, peningkatan cadangan strategis, serta penguatan energi terbarukan disebut penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak.
Kementerian terkait juga terus memantau perkembangan situasi global guna memastikan stabilitas pasokan energi nasional tetap terjaga. Upaya diplomasi dan kerja sama internasional menjadi bagian dari strategi menghadapi potensi gangguan rantai pasok global.
Shaivannur menambahkan, situasi ini juga menjadi pengingat bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi. Menurutnya, penggunaan energi alternatif dapat menjadi solusi jangka panjang dalam menghadapi volatilitas harga minyak dunia.
“Dengan posisi Selat Hormuz yang sangat strategis, setiap dinamika di kawasan tersebut akan terus menjadi faktor penting dalam menentukan arah ekonomi global. Bagi Indonesia, kewaspadaan dan kesiapan kebijakan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” tutupnya.