WASHINGTON — Industri otomotif Amerika Serikat kembali menghadapi potensi gangguan rantai pasok setelah pemerintah China memberlakukan larangan ekspor cip dari Nexperia, produsen semikonduktor yang banyak digunakan dalam produksi kendaraan. Asosiasi Produsen Motor dan Peralatan (MEMA) memperkirakan dampak kebijakan ini dapat mulai terasa di pabrik-pabrik otomotif dalam dua hingga empat pekan mendatang.
Larangan ekspor tersebut diumumkan Beijing bulan ini sebagai respons atas pengambilalihan kendali Nexperia—perusahaan berbasis di Belanda yang dimiliki China—oleh pemerintah Belanda. Kebijakan ini menambah ketegangan dagang China dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat yang selama ini mengandalkan pasokan cip dari Asia Timur.
Wakil Presiden Senior MEMA Steve Horaney menilai cip-cip tersebut dapat berdampak besar terhadap kelangsungan produksi. Ia menyebut ada alternatif pasokan, tetapi tidak tersedia untuk semua pabrikan. Menurutnya, keterbatasan kapasitas produksi membuat penggantian komponen semikonduktor tidak semudah mengganti komponen mekanis biasa.
Cip yang dipasok Nexperia banyak dipakai untuk fungsi dasar kendaraan, seperti sistem wiper, pengatur jendela, dan sensor suhu. Meski bukan cip berteknologi tinggi untuk fitur bantuan mengemudi, komponen ini dinilai vital dalam produksi massal dan sulit digantikan karena hanya sedikit produsen yang membuatnya.
Di luar Amerika Serikat, industri otomotif Eropa dan Jepang juga disebut tengah mencari solusi darurat untuk mencegah gangguan yang lebih luas. Dalam perkembangan terbaru, Nexperia memperingatkan pelanggan otomotif di Jepang bahwa perusahaan mungkin tidak lagi dapat menjamin pengiriman.
Situasi ini turut memunculkan dimensi geopolitik baru. Pemerintahan Donald Trump, yang kembali menempati Gedung Putih, dikabarkan sedang menyiapkan langkah balasan terhadap pembatasan ekspor komponen manufaktur dari China. Ketegangan tersebut diperkirakan menjadi salah satu topik utama dalam KTT pemimpin AS–China pekan depan.
Dari kalangan produsen otomotif AS, CEO Ford Motor Co Jim Farley menyebut persoalan cip Nexperia sebagai isu “politik” dan mengaku telah berdiskusi dengan pejabat pemerintah di Washington. Dalam konferensi laporan keuangan kuartal ketiga Ford pada 23 Oktober, Farley mengatakan industri membutuhkan terobosan cepat untuk menghindari kerugian produksi pada kuartal keempat.
CEO General Motors Co Mary Barra juga memperingatkan bahwa keterbatasan cip berpotensi memengaruhi produksi di sejumlah lini kendaraan. Ia menyatakan perusahaan menyiapkan tim yang bekerja bersama mitra rantai pasok untuk meminimalkan gangguan. Sementara itu, Stellantis NV menyebut tengah berkoordinasi dengan Nexperia dan pemasok lain untuk menilai potensi dampak serta menyusun langkah mitigasi.
Krisis ini kembali menegaskan rapuhnya ketergantungan industri otomotif global pada komponen cip yang diproduksi di Asia. Meski pandemi COVID-19 pernah mendorong dorongan diversifikasi rantai pasok, proses pengurangan ketergantungan tersebut dinilai masih berjalan lambat.

