BERITA TERKINI
Literasi Keuangan Anak Perlu Dibangun dari Rumah di Tengah Maraknya Transaksi Digital

Literasi Keuangan Anak Perlu Dibangun dari Rumah di Tengah Maraknya Transaksi Digital

Di tengah kemudahan transaksi digital dan beragam pilihan layanan keuangan yang dapat diakses melalui gawai, anak-anak semakin cepat bersentuhan dengan uang. Namun, kedekatan itu tidak selalu diikuti pemahaman tentang cara mengelolanya.

Karena itu, keluarga dinilai memegang peran penting dalam membangun literasi keuangan anak. Pembelajaran tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas, melainkan perlu diperkuat lewat praktik sederhana dalam keseharian yang dimulai dari rumah.

Sejumlah kebiasaan dapat menjadi fondasi awal, seperti melibatkan anak dalam diskusi keuangan keluarga, mengajarkan pencatatan sederhana pengeluaran, hingga membiasakan anak mengambil keputusan finansial kecil dengan pendampingan orang tua. Melalui cara ini, anak diharapkan memahami nilai dan fungsi uang secara lebih nyata, sekaligus membentuk kebiasaan dan sikap yang berpengaruh pada masa depan.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Dewi R.D. Amelia, CFP, yang menekankan bahwa pengelolaan keuangan tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh kebiasaan sehari-hari. Ia menyoroti pentingnya memahami ke mana uang digunakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mulai memikirkan perlindungan keuangan sebagai praktik dasar untuk membangun rasa aman di masa depan.

Menurut Dewi, keputusan kecil yang diambil sejak dini—mulai dari menentukan prioritas, menabung, hingga merencanakan tujuan—dapat berdampak besar bagi ketenangan hidup di kemudian hari. Karena itu, literasi keuangan perlu disampaikan secara praktis, relevan, dan dapat langsung diterapkan.

Tantangan literasi keuangan juga makin terasa di era digital. Rudy F. Manik, Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance, menilai anak-anak kini tumbuh dalam ekosistem keuangan yang semakin kompleks. Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital, termasuk dompet digital, menghadirkan peluang sekaligus risiko jika tidak dibarengi pemahaman yang memadai.

Kondisi tersebut tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat indeks literasi keuangan pelajar dan mahasiswa masih berada di angka 56,42%. Angka ini mendorong kebutuhan pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan peran keluarga, sekolah, dan pelaku industri jasa keuangan.

Pendekatan itu diusung PT FWD Insurance Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) melalui program JA SparktheDream yang tahun ini memasuki tahun keempat pelaksanaan. Pada tahun keempat ini, program menargetkan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama di berbagai kota, mulai dari Jabodetabek, Bandung dan Cimahi, hingga Semarang, Surabaya, Sidoarjo, dan Denpasar. Pelaksanaan program berlangsung hingga November 2026.

JA SparktheDream dirancang untuk memberikan edukasi literasi keuangan secara holistik melalui empat sesi pembelajaran interaktif di kelas. Program ini juga dipadukan dengan platform pembelajaran daring serta aktivitas rumah bersama keluarga sebagai bagian dari proses belajar.