Kompasiana bersama SPayLater menggelar kegiatan Financial Literacy on the Way (FLOW) bertema “Spend Wisely, Glow Brightly” di Auditorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Bogor, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025). Acara ini menjadi wadah edukasi sekaligus inspirasi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang bijak di era digital.
Dalam perkembangan teknologi yang serbacepat, literasi keuangan dipandang sebagai keterampilan yang perlu dimiliki setiap individu. Banyaknya produk dan layanan keuangan membuat pemahaman pengelolaan uang tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Tantangan yang mengemuka bukan hanya soal akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga kemampuan memahami risiko dan manfaat dari keputusan finansial yang diambil.
Asisten Direktur Pembinaan Karakter, Organisasi Kemahasiswaan, Olahraga, dan Kesenian Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan IPB, Muh Faturokhman, mengatakan pihaknya mendukung kegiatan literasi keuangan karena dinilai penting untuk membangun fondasi masa depan yang lebih baik. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi peluang bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi generasi yang mampu memutus rantai kesalahan finansial sehingga lebih siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
COO Kompasiana Heru Margianto menekankan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan gaya hidup, tetapi juga mencerminkan kualitas hidup yang lebih terarah dan bermanfaat. Ia mengajak mahasiswa lebih cermat mengatur anggaran dan budgeting, karena keputusan finansial yang diambil saat ini akan berpengaruh pada stabilitas dan kesejahteraan di masa depan.
Dalam sesi pemaparan, Direktur SPayLater Indonesia Anggie Setia Ariningsih menyampaikan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,5 persen, sementara indeks literasi keuangan berada di angka 66,5 persen. Perbedaan ini menunjukkan akses layanan keuangan yang kian luas belum sepenuhnya diimbangi pemahaman masyarakat dalam mengelolanya.
Anggie menyebut kondisi tersebut menjadi alasan perlunya program literasi keuangan yang relevan dengan kebutuhan generasi muda, misalnya melalui kegiatan interaktif seperti workshop, talk show, dan kampanye digital. Menurutnya, pendekatan ini membantu mahasiswa dan pengguna layanan keuangan digital tidak hanya memahami jenis layanan yang tersedia, tetapi juga belajar memanfaatkannya secara bijak.
Ia juga menilai literasi finansial penting untuk mendorong kemandirian mahasiswa agar tidak bergantung pada orangtua dan lebih siap menghadapi dunia kerja. Dengan pemahaman yang tepat, mahasiswa dinilai dapat memanfaatkan peluang ekonomi kreatif seperti freelance, UMKM digital, hingga menjadi konten kreator, sekaligus berperan sebagai agen perubahan.
Perwakilan Komite Pembiayaan Syariah Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan OJK, Yusron Hibrizie, menyampaikan pembiayaan syariah memiliki potensi besar sebagai solusi finansial yang inklusif dan sejalan dengan nilai yang dianut sebagian masyarakat Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa produk pembiayaan merupakan salah satu pilihan solusi, dan literasi keuangan membantu mahasiswa memahami berbagai opsi lain. Yusron menekankan pentingnya mengenali kebutuhan sebelum mengambil keputusan.
Asisten Direktur Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Chadra Shadiq Faritzi, mengatakan OJK terus memperkuat peran perlindungan konsumen serta memastikan produk keuangan yang beredar memenuhi standar keamanan dan transparansi. Ia menilai kolaborasi lintas pihak menjadi kunci untuk membangun ekosistem keuangan yang sehat.
Chadra menjelaskan salah satu langkah yang telah dilakukan adalah inisiatif OJK PEDULI yang mendorong lahirnya duta literasi keuangan dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Melalui efek pengganda, para duta diharapkan dapat memperluas literasi keuangan secara lebih masif dan merata. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai teladan dalam mengelola keuangan pribadi dan dapat menginspirasi keluarga, teman, serta komunitas agar lebih bijak menggunakan produk keuangan.
Dari sisi komunitas, Founder Mamaberuang: Financial Literacy, Ayu Sara Herlia, memaparkan manfaat pencatatan pengeluaran harian. Ia menyarankan pencatatan bisa dilakukan melalui spreadsheet, aplikasi budgeting, catatan sederhana, atau e-wallet untuk mengetahui ke mana uang digunakan setiap bulan. Dengan pelacakan tersebut, pengeluaran impulsif dapat lebih terkontrol dan kebocoran finansial bisa diidentifikasi, sekaligus mendorong kebiasaan menyisihkan dana darurat.
Dengan keterlibatan berbagai pihak, informasi keuangan yang benar dan tepercaya dinilai semakin mudah diakses. Edukasi semacam ini diharapkan membantu kalangan muda mengambil keputusan yang lebih bijak, baik dalam pengeluaran sehari-hari maupun perencanaan masa depan. Kolaborasi lintas pihak juga dipandang penting untuk memperluas inklusi keuangan agar layanan finansial menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat serta mengurangi risiko penggunaan produk keuangan yang tidak transparan.

