Dr. Samiyono, M.Pd., dosen Universitas Darunnajah sekaligus pakar manajemen pembiayaan pendidikan, menilai potensi santri dalam mendorong penguatan ekonomi umat melalui kebiasaan finansial yang tepat masih belum dioptimalkan. Ia menggambarkan situasi ketika lebih dari 42.000 pondok pesantren di Indonesia melepas jutaan santri pulang kampung saat Lebaran, membawa semangat, doa orang tua, serta rezeki musim raya yang nilainya tidak sedikit.
Menurutnya, jika sebagian dari para santri pulang dengan satu kebiasaan finansial yang benar, dampaknya dapat signifikan bagi ekonomi umat. Namun, hal itu memerlukan perhatian pada aspek yang dinilai kerap terabaikan dalam kurikulum pesantren maupun sekolah, yakni pendidikan karakter keuangan. Ia menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar teori menabung, melainkan pembentukan pola pikir dan watak sebagai fondasi pengelolaan keuangan.
Samiyono juga menyoroti ancaman inflasi yang disebutnya bekerja “diam-diam” menggerus rezeki Idulfitri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat momentum Ramadan–Idulfitri secara konsisten mendorong inflasi bulanan hingga kisaran 1,96 persen pada Maret 2025, lebih tinggi dibanding rata-rata bulan biasa. Kenaikan harga pangan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga terjadi bersamaan ketika daya beli masyarakat sedang meningkat, sehingga limpahan rezeki berpotensi tergerus sebelum sempat dikelola secara bijak.
Di sisi lain, ia merujuk survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2025 yang menunjukkan indeks literasi keuangan remaja usia 15–17 tahun baru mencapai 51,7 persen. Angka ini mengindikasikan hampir separuh generasi muda, termasuk santri, dinilai belum memiliki pemahaman memadai untuk menghadapi kondisi seperti inflasi, baik untuk menjaga nilai uang yang diterima maupun menumbuhkannya menjadi aset.
Dalam pandangannya, perbedaan kondisi finansial tidak semata ditentukan oleh besarnya uang yang dimiliki, melainkan oleh cara berpikir tentang uang. Ia menyebut riset perilaku keuangan global menunjukkan pola pikir terbentuk jauh sebelum seseorang memiliki portofolio investasi, bahkan sebelum memiliki rekening tabungan pertama.
Samiyono menguraikan adanya dua kutub pola pikir yang dapat memengaruhi nasib finansial. Pola pikir konsumtif memandang uang sebagai alat pemuas keinginan sesaat, mendorong gaya hidup di luar kemampuan, berutang untuk konsumsi, dan membuat seseorang sulit keluar dari lingkaran pengeluaran. Sebaliknya, pola pikir produktif memandang uang sebagai “benih” yang perlu dievaluasi penggunaannya—mana yang ditanam, mana yang diamalkan, dan mana yang boleh dinikmati. Ia menilai perbedaan kedua pola pikir tersebut, jika dibiarkan, akan terakumulasi menjadi jurang kekayaan yang makin lebar seiring waktu.
Ia menegaskan bahwa kekayaan bukan tujuan akhir, melainkan hasil dari karakter yang dibangun secara sabar. Dalam naskahnya, Samiyono menyebut adanya tujuh karakter mendasar yang secara konsisten ditemukan pada mereka yang berhasil membangun kekayaan dan memiliki akar dalam nilai-nilai Islam serta tradisi pesantren, meski rincian ketujuh karakter tersebut tidak dipaparkan lebih lanjut dalam materi yang tersedia.

