Lembaga National Single Window (LNSW) Kementerian Keuangan menyatakan kinerja dwelling time di sektor logistik semakin efisien seiring pemanfaatan teknologi digital. Dwelling time merujuk pada waktu sejak barang tiba di pelabuhan hingga keluar dari pelabuhan, mencakup proses bongkar muat, pemeriksaan bea cukai, dan pengurusan dokumen.
Kepala LNSW Oza Olavia mengatakan, durasi dwelling time yang sebelumnya bisa mencapai 7 hari kini berhasil ditekan. “Angka dwelling time dulu cukup tinggi, bisa sampai 7 hari. Dengan adanya pengelolaan yang baik dari kementerian/lembaga (K/L), di tahun 2023 angkanya sudah 2,6 hari,” ujar Oza dalam kegiatan Media Gathering di Ancol, Jakarta, Jumat (6/12/2024).
Realisasi 2024 dan target nasional
LNSW mencatat capaian dwelling time pada periode Januari hingga Oktober 2024 sebesar 2,85 hari. Angka tersebut disebut memenuhi target dwelling time nasional 2,9 hari.
Menurut Oza, perbaikan ini turut mendukung efisiensi waktu perizinan ekspor dan impor. Ia menyebut rata-rata capaian dwelling time pada 2023 berada di 2,62 hari, sedangkan capaian hingga Oktober 2024 sebesar 2,85 hari.
Penataan Ekosistem Logistik Nasional
Selain pemangkasan dwelling time, LNSW juga terlibat dalam penataan Ekosistem Logistik Nasional atau National Logistics Ecosystem (NLE) sesuai amanat Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2020. Program NLE disebut telah diimplementasikan di 52 pelabuhan dan 7 bandara.
LNSW menyatakan sebaran implementasi di pelabuhan dan bandara tersebut telah mendekati 100 persen dokumen ekspor impor nasional.
Layanan digital yang dikembangkan
Untuk mendukung penataan ekosistem logistik, LNSW mengembangkan sejumlah layanan berbasis digital, antara lain:
- Delivery Order Online
- Surat Penyerahan Petikemas (SP2) Online
- Single Submission (SSm) Quarantine Customs
- SSm Pengangkut
- SSm Perizinan
Klaim efisiensi waktu dan biaya
Oza menyebut penerapan NLE mendorong efisiensi waktu dan biaya, dengan rentang efisiensi waktu 21,0%–71,4% serta efisiensi biaya 25,7%–97,8%.
Ia juga memaparkan hasil survei Prospera tahun 2023 terkait efisiensi sejumlah layanan. Pada layanan delivery order online, efisiensi waktu disebut mencapai 40,3% dan efisiensi biaya 25,7%. Sementara SSm Quarantine Customs diklaim menekan waktu hingga 73,4% dan biaya 46,1%.
Adapun SSm Pengangkut disebut menghasilkan efisiensi waktu 21,6% dan biaya 45%. Untuk SSm Perizinan, efisiensi waktu dilaporkan 56,4% dan efisiensi biaya 97,8%.
“LNSW mendorong transformasi digital pada layanan pemerintah. Baik di bidang ekspor, impor maupun bidang logistik. Jadi artinya bagaimana ini secara berkesinambungan memberikan suatu ekosistem,” kata Oza.
Peran LNSW dalam layanan ekspor-impor
LNSW merupakan lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang bertugas mengelola Indonesia National Single Window (INSW) dan menyelenggarakan Sistem Indonesia National Single Window (SINSW) untuk ekspor, impor, dan logistik. LNSW mendorong perubahan pola kerja dari manual atau berbasis dokumen fisik menjadi layanan digital untuk berbagai layanan pemerintah.
Tren ekspor Indonesia ke mitra FTA
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi menyampaikan tren ekspor Indonesia ke negara-negara mitra perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement/FTA) menunjukkan hasil positif, dengan hampir semua negara mengalami peningkatan ekspor, kecuali Palestina.
Fajarini mengatakan Indonesia saat ini memiliki 11 perjanjian perdagangan bebas bilateral. Berdasarkan data yang ia sampaikan, lebih dari 85% atau hampir 87% ekspor Indonesia berasal dari negara-negara mitra yang memiliki perjanjian perdagangan bebas. “Kemudian tren ekspor dengan negara-negara ini juga meningkat ya. Ada 11 negara semuanya meningkat kecuali dengan Palestina,” ujar Fajarini dalam Gambir Trade Talk di Jakarta, Selasa (19/11/2024).
Ia menegaskan perjanjian perdagangan bebas menjadi salah satu strategi untuk membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk melalui tarif bea cukai yang lebih rendah dan akses pasar yang lebih terbuka.

