BERITA TERKINI
Luhut Usulkan Figur Muda Pimpin BEI di Tengah Sorotan MSCI soal Transparansi Pasar

Luhut Usulkan Figur Muda Pimpin BEI di Tengah Sorotan MSCI soal Transparansi Pasar

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengusulkan agar Bursa Efek Indonesia (BEI) dipimpin figur muda yang memiliki pengalaman dan kredibilitas kuat. Usulan itu disampaikan di tengah upaya pemerintah membenahi iklim investasi setelah adanya sorotan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait transparansi dan struktur pasar modal domestik.

“Cari anak muda yang punya pengalaman, yang punya kredibilitas, untuk memimpin pasar modal, yang tidak bisa diintervensi siapa-siapa gitu,” kata Luhut saat ditemui di kantor DEN, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Februari 2026.

Menurut Luhut, perombakan kepemimpinan bursa dapat memperkuat independensi BEI dan meningkatkan kepercayaan investor. Ia menilai kredibilitas menjadi kunci untuk membangun kembali kepercayaan investor global. Dengan tata kelola yang lebih transparan dan kepemimpinan yang independen, Indonesia diharapkan mampu menarik arus modal masuk yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Saat ini, BEI dipimpin Jeffrey Hendrik sebagai pejabat sementara Direktur Utama hingga Juni 2026. Ia menggantikan Iman Rachman yang mengundurkan diri pada Jumat, 30 Januari 2026. Pengunduran diri tersebut terjadi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah selama dua hari berturut-turut pada pekan terakhir Januari 2026.

Tekanan di pasar muncul tidak lama setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara penyesuaian komposisi dan bobot (rebalancing) saham Indonesia dalam indeksnya. Keputusan itu diambil seiring peninjauan ulang terhadap aturan mengenai jumlah saham yang benar-benar beredar di publik (free float) di pasar modal Indonesia.

Dalam pengumuman tertanggal 28 Januari 2026, MSCI menyatakan masih ada kekhawatiran investor terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.

“Meskipun telah ada perbaikan minor terhadap data float PT Bursa Efek Indonesia, investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kemampuan investasi masih berlanjut karena kurangnya transparansi dalam struktur kepemilikan saham dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat,” tulis MSCI.

MSCI menilai diperlukan informasi yang lebih rinci dan andal mengenai struktur kepemilikan saham, termasuk pemantauan atas konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi di pasar Indonesia. Atas dasar itu, MSCI memutuskan membekukan sementara penyesuaian saham Indonesia dalam indeksnya.